IBU CERDAS GENERASI BERKUALITAS

IBU CERDAS GENERASI BERKUALITAS

Ir. Ummu Azkia Fachrina, MA

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran Kami bagi orang-orang yang bersyukur”(QS. Al-a’raaf: 58)

Bismillahirrahmanirrahim….

Muqaddimah

Segala puji bagi Allah.  Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan memohon perlindungan-Nya dari kejahatan diri kami dan amal perbuatan kami.  Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh-Nya maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi tiada ilah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw. adalah hamba utusan-Nya, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan atas beliau.  Amin.

Anak merupakan amanah yang harus dipikul oleh pundak orang tua.  Orang tua bertanggungjawab atas terlaksananya amanah ini.  Bila orangtua salah dalam mendidik anak, kesalahan itu menyebabkan kerusakan yang nyata, kelalaian yang serius, pengkhianatan terhadap amanah, dan pertanda dari lemahnya dalam hal agama.

4324_1058751912933_1349959887_30122761_8043143_nRumah merupakan lembaga pendidikan(sekolah) pertama untuk mendidik anak. Rumah merupakan cikal bakal terbentuknya masyarakat yang terdidik.  Dalam rumahtangga yang mulia dan tanggap, yang dibangun atas dasar penerapan hukum-hukum Allah, penjagaan syari’at-Nya, kecintaan, cinta kasih, kasih sayang, itsar, saling menolong, dan ketakwaan, akan melahirkan para pemimpin dan tokoh laki-laki dan perempuan yang handal.

Sebelum dididik melalui bangku sekolah, terlebih dahulu anak dididik di dalam rumah dan keluarga. Sudah barang tentu dalam proses pendidikan itu ia akan selalu merekam segala gerak gerik orang tuanya, baik dalam aspek sosialnya maupun kelurusan moralnya.  Oleh karena itu, orang tua mempunyai tanggung  jawab yang amat besar terhadap penyimpangan moral anaknya.1

Ibnu al Qayyim rahimahullah ta’ala berkomentar”Betapa banyak orangtua yang membuat anak dan buah hatinya hidup sengsara dan merana di dunia dan di akhirat kelak, karena kelalaian dan keengganannya dalam mendidik anaknya serta membiarkannya mengikuti hawa nafsunya.  Dikiranya apa yang mereka lakukan itu telah memuliakan anaknya, padahal  sebenarnya  mereka telah berbuat

1 As Shabghah, Muhammad.  Nazharat fil Usrah al-Muslimah, hlm. 154. dan Musthafa as Siba’i, Akhlaquna al ijtima’iyyah, hlm. 155.

aniaya terhadap anaknya tersebut.  Dikiranya mereka telah memberikan kasih sayang kepada anaknya, padahal sebenarnya mereka telah mendzaliminya.  Dengan demikian, mereka tidak mampu memanfaatkan anaknya, begitu pula si anak kehilangan nasib dan keberuntungannya di dunia dan di akhirat kelak.  Oleh karena itu, adanya kerusakan moral pada anak-anak maka penyebab utamanya adalah kesalahan orangtua dalam mendidik anak-anaknya.”2

Ketika anak terlahir dari rahim seorang ibu, maka ibu lah orang pertama bagi dunia anak-anaknya.  Ibu adalah sosok pertama yang dikenalnya.  Bahasa pertama yang didengar dan difahaminya.  Dan bahasa ibu adalah sebuah bahasa hati nurani dan bahasa Fithrah.  Karena itu sosok ibulah yang senantiasa menggenggam kasih sayang anak-anaknya dari mulai mengandung anak-anaknya dan melahirkannya dan menjadi madrasah(sekolah) pertama bagi anak-anaknya dalam rumah keluarganya.

Keberhasilan mendidik anak dalam keluarga dan membentuknya menjadi generasi berkualitas, pemimpin yang shaleh, cerdas, sehat/kuat dan peduli bangsa, tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademis sang ibu, akan tetapi sangat tergantung juga pada metodologi pendidikannya, dan itu bukanlah perkara yang tidak mungkin direalisasikan meski membutuhkan daya upaya yang cukup besar. Pada dasarnya untk mencapai hal ini dapat dilakukan melalui proses pendidikan dan pembinaan yang berlansung sepanjang kehidupan manusia.  Jika ibu telah memahami metodologi yang benar dalam mendidik anak-anaknya, dan pandai menjadikan rumah sebagai lokasi strategis untuk mengsantrikan anak-anaknya, maka misi orangtua menjadikan rumah sebagai madrasah yang mampu mencetak generasi-generasi yang tangguh dan mandiri menjadi suatu yang bukan kemustahilan lagi. Karena potensi dasar untuk membentuk generasi berkualitas dipersiapkan pertama kali oleh keluarga (terutama Ibu).

IBU CERDAS

Ibu bagaikan dahan pijakan bagi anak untuk meraih pucuk kehidupannya.  Bila dahan itu lemah atau patah maka anak akan sulit bahkan bisa jatuh bersamanya dan tidak sampailah dia ke puncak, sangat sulit baginya untuk meraihnya.  Dengan perumpamaan ini, maka ibu sebagai pijakan pertama dan utama bagi anak-naknya (terutama anak usia dini) akan senantiasa mengharuskan dirinya menjadi ibu yang handal.  Optimal dalam membangun dirinya, optimal mengasah kecerdasan akalnya.  Dan hal ini tidak dapat dia lakukan sendirian, tidak dapat diraihnya tanpa menggali potensinya, tanpa pembinaan dan bimbingan yang menyeluruh dalam sendi-sendi kehidupannya.  Dan sudah menjadi suatu keharusan, hal ini bisa terbenuk pada sosok seorang ibu dengan adanya perhatian negara terhadap pembinaan dan bimbingan untuk para ibu.  Tidak luput pula peran serta parpol, ormas, lembaga-lembaga yang terkait dalam masyarakat sudah selayaknya

2 Tuhfatul Maududi fi ahkamil Maududi Libnil Qayyim, hlm. 146-147.

andil dalam mencerdaskan peran ibu, sehingga ibu benar-benar mampu mempersiapkan generasi berkualitas (pemimpin) yang shaleh, cerdas, sehat/kuat, dan peduli bangsa.

Lalu yang bagaimanakah sosok ibu cerdas? Apa yang harus dibina/dibangun pada dirinya, sehingga seorang ibu benar-benar mampu mempersiapkan generasi berkualitas?  Sebaiknya kita sama-sama mulai memahami dan mencoba membangunnya dalam diri kita sebagai seorang ibu, akan hal-hal yang diuraikan di bawah ini, bahwa ibu cerdas yang mampu mempersiapkan generasi berkualitas adalah:

  1. Memiliki Aqidah dan Kepribadian Islam
  • Ibu yang beraqidah kuat akan memiliki keyakinan bahwa anak adalah amanah Allah yang akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak di hari akhir.  Ibu yang beraqidah kuat adalah ibu yang memiliki kecerdasan spiritual yang tangguh.  Yang akan menempa anaknya dengan keimanan yang kokoh sejak kecil dan menghindarkannya dari berbagai bentuk kesyirikan yang melahirkan bentuk-bentuk kemaksiyatan.  Dengan ini ibu akan berusaha memahamkan anak tentang hakikat dan tujuan kehidupannya, karena ibu yang cerdas senantiasa memahami bahwa posisi anak telah ditempatkan oleh Allah sebagai:

v      Nikmat yang dianugerahkan Allah dalam keadaan fithrah, belum berdosa, dan belum menyimpang dari penciptaanNyaà”Tetaplah atas fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu.  Tidak ada perubahan pada fithrah Allah.”(QS. Ar Rum:30); à”Setiap bayi dilahirkan berdasarkan fithrahnya, lalu kedua orang tuanyalah yang dapat menjadikannya seorang yahudi atau nasharani atau seorang majusi.” (HR. Muslim)

v      Perhiasan duniaà”Harta benda dan anak-anak itu sebagai perhiasan hidup di dunia” (QS Al Kahfi: 46)

v      Aset Pahala bagi orangtua di hari kiamatà Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw bersabda: ”Tidaklah seorang muslim yang tiga anaknya meninggal dunia dan belum sampai baligh, tidak akan tersentuh api neraka kecali hanya seperti melepaskan sampah.” (HR. Bukhari Muslim)

v      Aset generasi masa depanà ”Seusngguhnya aku (Zakaria) mengkhawatirkan adanya pemimpin generasi di belakangku nanti, sedangkan istriku sendiri seorang yang mandul. Maka annugerahilah aku dari sisi Engkau keturunan sebagai pemimpin yang dapat mewarisi aku dan mewarisi (peninggalan) keluarga Ya’kub.  Dan jadikanlah ia wahai Rabbku…(keturunan) yang Engkau Ridhai.” (QS. Maryam: 5-6); ”Bila seorang manusia meninggal, terputuslah semua amalannya kecuali tiga perkara:  Shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh.”(HR. Muslim)

v      Seorang anak juga memiliki potensi hidup berupa akal, kebutuhan jasmani, dan potensi naluri. Pemenuhan atas potensi-potensi ini memerlukan pengetahuan yang mendasar berdasarkan keimananan yang kokoh, sehingga anak tidak memenuhinya dengan cara menyimpang.  Dan pengenalan pertama kali atas segala pemenuhan ini diperkenalkan oleh orang yang pertama kali mengenal dirinya yaitu sosok ibu. Sehingga teladan yang baik menjadi hal sangat penting dalam mengajarkan solusi pemenuhan atas potensi-potensi tersebut.

Berdasarkan hal tersebut di atas, jelaslah bahwa masalah keimanan dan bebagai kebaikan, orangtualah yang harus menjelaskannya secara langsung kepada anak sebelum orang lain menjelaskan kepada anak kita yang belum tentu benar penjelasannya.

  • Sosok Ibu harus berkepribadian Islam yang melandaskan kehidupannya untuk senantiasa berfikir dan bersikap berdasarkan Aqidah Islam.  Baik buruk senantiasa disandarkan pada Aqidah Islam, sehingga sosok ibu yang berkepribadian Islam akan senantiasa menjadikan hukum syara’ sebagai standar dalam perbuatannya.  Dengan demikian ibu akan memiliki sifat pendidik anak-anaknya sebagai berikut:

v      Ikhlasàmeniatkan karena Allah, semata-mata Ridha Allah SWT

v      Penyayangàibu penyayang akan menumbuhkan pertumbuhan kemanusiaan dan perkembangan emosional anak yang percaya diri dalam melakukan eksplorasi dunia baru dengan mudah dan ini adalah hak anak-anak kita.

v      Bahasa yang baikàdapat merangsang aspek intelektual anak dan menumbuhkan kecenderungan naluri anak ke arah yang semestinya, yang mampu menjawab keingintahuan anak dengan jawaban yang mengendalikan dan mengarahkan ke arah yang baik dan benar.

v      Kafa’ahàmenguasai materi dan meode mendidik anak-anaknya

v      Amanahàterpercaya dan bertanggungjawab sebagai pendidik anak-anaknya (Qs.  An-Nisaa: 9; HR. Bukhari Muslim)

v      Himmatu al a’malàsemangat dan bersungguh-sungguh dalam mendidik anak-anaknya

  1. Memiliki kesadaran untuk mendidik anak-anaknya sebagai aset masa depan
  2. Mengetahui dan menguasai tentang konsep pendidikan anakà Seorang ibu harus memahami beberapa konsep pendidikan dalam mendidik anak-anaknya, di mana dalam mendidik mereka haruslah sesuai dengan tahapan perkembangannya, antara lain:
  1. Setiap anak memilki karakteristik yang berbeda sehingga perlakuan atau metode pendekatan yang dipakai masing-masing dalam proses pembelajarannyapun bisa jadi berbeda.
  2. Anak akan mengalami perubahan sesuai pendidikan yang diberikan.  Namun perubahan yang terjadi pada masing-masing anak tidak sama dan instan.  Perubahan terjadi secara bertahap.  Di sinilah perlu keshabaran dan tidak boleh membanding-bandingkan kemampuan anak.
  3. Semua aspek perkembangan saling berhubungan, sehingga ibu harus memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang faktor-faktor yang dapat mempenaruhi tumbuh kembang anak, baik fisik, mental, maupun spiritualnya.
  1. Memiliki manajemen diri dan waktu yang baikàadanya konsep aulawiyat yaitu ketika melaksanakan beberapa pekerjaan dalam waktu yang bersamaan, ibu dapat menetapkan pilihan pekerjaan dalam waktu yang bersamaan.

Peran sebagai ibu bukanlah peran yang biasa-biasa saja, tetapi peran yang memiliki nilai strategi dalam kehidupan umat manusia.  Dengan kestrategisan peran ibu inilah terlahirlah suatu optimisme dari sosok ibu-ibu cerdas untuk melejitkan potensi anak-anaknya sehingga benar-benar menjadi generasi yang berkualitas.  Dan sungguh, pribadi yang pantas kita jadikan teladan yang baik dalam mendidik anak-anak kita adalah teladan dari Rasulullah Muhammad SAW.  Beliau mencontohkan kepada kita cara-cara mendidik anak supaya menjadi anak yang cerdas berkualitas, antara lain dengana;

1)      Berniatà ”Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Niat yang benar hanyalah semata-mata Ridha Allah untuk menjadikan tercapainya Khairu ummah.

2)      Kenali kemampuan anakàsadari bahwa setiap anak memiliki sesuatu yang unik dan menarik, dan ini berbeda satu sama lain.  Identifikasi hal tersebut dan lejitkan.

3)      Tanamkan konsep diri  positif dan motivasi pada anakàanak akan percaya diri, bertanggungjawab dan amanah.

4)      Memberikan stimulasiàberikan rangsangan berulang-ulang dan bervariasi, contoh:  dengan bermain, perhatian dan kasih sayang.

5)      Curahkan kasih sayangàRasulullah senatiasa mencium cucunya Hasan dan Husein, senantiasa mengucapkan salam, tidak ringan tangan.

6)      Menjalin komunikasi yang efektifàorangtua dan guru perlu melatih kemampuan untuk menjalin komunikasi dengan anak-anak secara efektif sesuai tahapan perkebangan mereka. Tataplah mata mereka, berdialoglah dengan membangun keberanian dan rasa percaya diri untuk mengungkapkan pendapat dan keinginannya, memahamkan anak terhadap apa yang dibahas dengan cara yang tepat, biasakan anak untuk berargumentasi yang benar sehingga tidak memaksakan kehendaknya, menjalin kedekatan emosi, manajemen emosi untuk menghadapi perilaku buruk anak-anak yang kita didik.

SIAPA GENERASI BERKUALITAS?

”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran: 110).

Generasi yang digambarkan dalm wahyu Allah ini adalah generasi pemimpin yang unggul yang mampu menjadi leader dan problem solver.

IKHTITAM

Semua yang kita lakukan hanyalah sebuah ikhtiar.  Terus memohon petunjuk dan perlindungan dari Allah SWT agar kita dimudahkan dalam  mendidik anak.  Selain itu, keshabaran dan pengendalian diri adalah kunci keberhasilan dalam upaya melahirkan generasi-generasi cerdas berkualitas. Anak kita adalah buah hati kita, jangan biarkan buah itu rusak tak berdaya karena kelalaian kita mendidiknya.  Sehingga perlulah di sini kita perkuat kembali proses pembentukan generasi berkualitas ini dengan senantiasa:

  1. Menjadikan keluarga sebagai wadah pembinaan generasi Islam
  2. Berhati-hati dalam memfasilitasi anak-anak dengan media elektronik
  3. Menghadirkan lingkungan masyarakat yang kondusif bagi pendidikan anak
  4. Mendorong Pemerintah/Negara untuk menjamin berlangsungnya proses pendidikan yang baik

Mengamati urgensi ini jelaslah bahwa ternyata:

  1. Peran ibu adalah peran strategis dalam kehidupan umat manusia bukanlah peran yang biasa-biasa saja.
  2. Pengoptimalan peran ibu menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat.
  3. Diperlukan pembinaan yang serius, terarah dan simultan untuk para ibu agar mampu menjalankan perannya dengan baik.
  4. Terwujudnya generasi berkualitas di masa mendatang bukanlah semata-mata harapan.

Wallahu a’lam bi as shawab…..Semoga Allah mudahkan perjalanan menjadi Ibu Cerdas.  Amin.

Bekasi, 15 Agustus 2009

Disampaikan dalam acara Seminar ”Menjadi Pendidik yang Tangguh”

Semoga bermanfaat dan menjadi amal shalih,

Salam Ta’zim untuk keluarga-keluarga dan Ibu-Ibu cerdas Mulia

Sebagai bahan renungan, kita senantiasa menjadikan al Quran sebagai rujukan:

  1. Pendidikan anak
  1. Pengajaran anak

Wallahu a’lam bi shawab…

4 thoughts on “IBU CERDAS GENERASI BERKUALITAS

  1. Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

    Mbak, saya tertarik dengan isi artikel yang mbak posted di blog ini… saya unduh ya mbak….

    mbak, saya ingin bisa lebih mahir dalam IT, terkhusus jaringan network seperti BLOG…
    kalo tidak keberatan, mohon kirimkan database/file yang berisi tutorial ataupun cara agar blognya tampil beda dengan blog2 lainnya ke e-mail saya ya mbak…terus terang, blog saya masih kaku dan kosong fitur…mohon bantuannya ya mbak

    Jazakillah mbak atas perhatiannya ^_^

    Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

  2. syukron mba’ makalah ini sgt bermanfaat bagi kami org tua yang mau mendidik anak anak menjadi pribadi yang dapat bermanfaat bagi bangsa dan agamanya, smg mba’ sllu mendapatkan rahmatnya pula lewat tulisan ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s