Mengakhiri Episode Panjang Kisah Pembunuhan

Oleh: Vanissa Sebayang, S. Si

(Alumni Matematika Universitas Negeri Malang)

Berita pembunuhan kembali mengejutkan khalayak ramai. Pasalnya satu keluarga ditemukan tewas di sebuah rumah di Jalan Bojong Nangka II, Jatirahayu, Pondok Melati, Kota Bekasi pada hari Selasa (13/11/2018) dini hari. Berdasarkan informasi, satu keluarga tersebut terdiri dari suami istri dan dua anak. Penyebab tewasnya belum dapat dipastikan. Pihak kepolisian belum bisa memberikan komentar. Namun, keluarga tersebut diduga menjadi korban pembunuhan.1

Berita semacam ini, bukanlah hal baru. Kasus pembunuhan tersebut menambah daftar panjang kasus pembunuhan di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat terdapat 1.491 kasus pembunuhan sepanjang tahun 20152. Ini baru yang diketahui, padahal kasus kriminalitas termasuk pembunuhan bagaikan fenomena gunung es, yang diketahui dan tampak kepada publik hanya puncaknya saja sementara kasus yang sesungguhnya terjadi jauh lebih banyak lagi.

Bertambahnya daftar kasus pembunuhan di negeri ini mengingatkan kita akan panjangnya episode sinetron keluaran lokal yang ber-season-season. Berbagai masalah datang silih berganti tanpa ada penyelesaian yang konkrit mengakibatkan sang pemeran utama hidup dalam nestapa. Berbelitnya masalah yang timbul di sinetron bisa jadi diakhiri dengan bertemunya pemeran utama dengan kekasih pujaan hati keturunan bangsawan yang mengajaknya bersanding di pelaminan namun bertumpuknya kasus kriminalitas termasuk pembunuhan di dunia nyata hanya akan membawa keresahan, ketakutan dan rasa ketidak adilan di tengah-tengah masyarakat dan hal ini sangat memungkinkan untuk menimbulkan konflik.

Maka tidak mengherankan, kasus pembunuhan yang terus berulang meninggalkan pertanyaan besar bagi kita: mengapa hal ini terjadi lagi dan lagi? Bukankah semua orang sepakat menghilangkan nyawa manusia merupakan tindakan yang keji? Tidak adakah solusi tuntas terhadap kasus pembunuhan?

Mencari solusi tuntas terhadap suatu masalah mengharuskan kita untuk mengetahui terlebih dahulu penyebab terjadinya masalah tersebut. Begitu pula dalam masalah maraknya kasus pembunuhan. Cara sederhana yang dapat kita lakukan adalah dengan mengetahui motif atau alasan pelaku pembunuhan. Menurut kriminolog dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yesmil Anwar penyebab pembunuhan secara umum terbagi ke dalam tiga motif yaitu harta benda atau ekonomi, kekuasaan dan hubungan sosial.³

Kondisi ekonomi yang sangat menyulitkan pada saat ini seringkali menjadi pendorong utama seseorang untuk melakukan apa saja agar mendapatkan penghasilan seperti mencuri yang berujung pembunuhan bahkan menjadikan pembunuh bayaran sebagai profesi mengais rezeki. Begitu pula dengan nilai materi yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat, menjadikan banyak orang gila dengan kekuasaan sehingga tak jarang menghalalkan berbagai cara untuk meraihnya. Hubungan sosial yang tidak sehat seperti dendam, cemburu atau tidak terima karena dipecat dari pekerjaan menjadi pemantik amarah yang efektif di tengah-tengah kondisi masyarakat yang carut marut. Melalui ketiga motif yang dipaparkan sebelumnya nampak bahwa pembunuhan tidak hanya berkaitan dengan tindak pidana menghilangkan nyawa orang lain namun lebih luas dari itu ternyata berhubungan pula dengan perekonomian yang sangat mencekik, cara pandang masyarakat yang cenderung materialistis dan suasana masyarakat yang dipenuhi ketegangan hingga masalah sepele pun bisa berujung kematian. Sekalipun semua orang sepakat bahwa pembunuhan tanpa alasan yang dibenarkan adalah tindakan keji namun gambaran kondisi hari ini begitu mendorong dan memudahkan orang untuk melakukan pembunuhan.

Oleh sebab itu, setiap pihak yang menginginkan angka pembunuhan diminimalisir bahkan dihilangkan, sangat perlu untuk memperkecil bahkan meniadakan kondisi-kondisi yang mengarahkan kepada aksi pembunuhan. Penanganan pada kasus pembunuhan di Indonesia tidak bisa diremehkan memang, seperti adanya KUHP, Pasal 340 soal pembunuhan berencana yang mengancam pembunuh dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun. Pada KUHP pasal 338 juga dibahas hukuman bagi pembunuhan biasa. Namun tidak dapat dipungkiri adanya pasal tersebut, di sisi lain kondusivitas bagi pembunuhan tetap dibiarkan menjadikannya tidak ampuh, sebagaimana yang kita saksikan sendiri.

Begitu mengenaskannya kondisi hari ini membuat kita bertanya: Apakah harapan untuk menuntaskan kasus pembunuhan hanya mimpi di siang bolong? Tidak adakah cara untuk menuntaskannya?

Will Durant, seorang sejarawan berkebangsaan Amerika menulis dalam bukunya The Story of Civilization:

Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.⁴

Gambaran diatas bukanlah kisah fiktif belaka namun kisah nyata yang terjadi selama kurang lebih 13 abad di sepanjang wilayah Moroko sampai Merauke. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa meminimalisir kriminalitas termasuk pembunuhan merupakan suatu hal yang sangat mungkin.

Lalu apa rahasia dari gambaran tersebut?

Faktanya penuturan Will Durant tersebut mengacu pada kondisi yang dihasilkan oleh penerapan hukum Islam. Islam memandang nyawa manusia sangatlah berharga, sebagaimana firman Allah swt
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi (QS. Al – Maidah ayat 32)

Sehingga siapapun yang merenggut nyawa manusia tanpa alasan yang dibenarkan Islam, akan mendapat hukuman yang sangat berat.

Melalui cara pandang tersebut Islam memiliki seperangkat mekanisme yang saling berkaitan untuk menumpas tindakan pembunuhan. Mekanisme tersebut terdiri dari dua sisi yaitu sisi pencegahan (preventif) dan sisi sanksi (kuratif).

Pada sisi preventif menamkan aqidah Islam yg kuat pada diri setiap individu adalah hal yang paling mendasar. Sebab individu yang memiliki aqidah yang kuat menyadari Allah Maha Melihat dan akan menghisab setiap aktivitas sehingga mencegahnya dari berbuat kriminal. Selain itu Islam juga memerintahkan untuk memiliki akhlak baik berupa sabar, tidak cepat marah serta mudah memaafkan. Sistem pendidikan Islamlah yang memastikan aqidah dan akhlak tertancap kuat di benak tiap individu. Ditambah dengan sistem Ekonomi Islam yang menjamin tiap orang mampu memenuhi kebutuhan primernya, kekayaan terdistribusi rata sehingga tidak ada kesnjangan antara si kaya dan si miskin seperti yang terjadi hari ini.

Apabila masih terdapat tindak kriminal pembunuhan setelahnya maka Islam juga meiliki cara untuk memberi sanksi yang tegas. Allah swt berfirman
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa (QS. Al – Baqarah ayat 179)

Pembunuh dalam Islam dikenai sanksi qishash, sebagaimana yang disampaikan dalam ayat diatas, yaitu si pembunuh akan dikenai sanksi berupa hukuman mati. Ayat tersebut juga menyebutkan, pada qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi orang-orang berakal supaya bertaqwa.

Maksud ayat tersebut, bahwa dalam pensyariatan qishash yakni hukuman mati bagi si pembunuh, terdapat hikmah yang sangat besar, yaitu menjaga jiwa manusia. Karena pemberian sanksi di dalam Islam dilaksanakan di muka umum sehingga orang lain mengetahui apabila sanksi membunuh adalah hukuman mati, walhasil orang lain akan berfikir ribuan kali untuk melakukan pembunuhan bahkan sangat takut untuk melakukan aksi tersebut.

Keefektifan hukum Islam dalam mengatasi tindak kriminal termasuk di dalamnya pembunuhan terbukti dalam penelitian Universitas Malaya, Malaysia yang mengungkapkan bahwa berabad-abad lamanya Khilafah Utsmani memimpin dunia, kasus kejahatan hanya ada 200 kasus.

Jelas bagi kita, untuk mengakhiri episode panjang kisah pembunuhan ini membutuhkan solusi yang menyeluruh. Sistem demokrasi hari ini telah menciptakan suasana yang kondusif bagi tindakan kejahatan termasuk pembunuhan. Solusi yang ditawarkan hanya tambal sulam, tidak menyelesaikan hingga ke akarnya. Sementara Islam dengan peraturan yang bersumber dari wahyu Allah swt dan diturunkan kepada Teladan kita Rasulullah Muhammad saw memiliki cara ampuh untuk menyelesaikan permasalahan ini hingga mencabut sumber masalahnya. Sehingga, memang hanya dengan penerapan Islam yang sempurna sajalah kisah pembunuhan tidak akan berlanjut ke episode berikutnya.
Wallahu a’lam bi shawab

1_http://wartakota.tribunnews.com/2018/11/13/breakig-news-satu-keluarga-ditemukan-tewas-di-pondok-melati-bekasi.
2_https://www.bps.go.id/dynamictable/2018/05/30/1403/jumlah-kasus-kejahatan-pembunuhan-pada-satu-tahun-terakhir-2011—2015.html
³_https://daerah.sindonews.com/read/855169/21/ini-penyebab-kenapa-kasus-pembunuhan-marak-1397725865
⁴_ https://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/arief-b-iskandar-masa-depan-peradaban-islam.htm#.W-6ylWZoTtR

2 Cara Elegan Merendahkan HTI

Oleh: Ayin Harlis

Ada beberapa upaya berbagai pihak untuk menghentikan, menjegal, menghina, menampakkan kebencian kepada HTI. Pihak pemerintah menempuh jalur hukum dan perundang-undangan untuk mencabut BHP organisasinya. Ormas berplatform toleran menghentikan kegiatannya, mempersekusi ulama pendukungnya. Bahkan sampai ada oknum yang memelintir spanduk atas namanya. Hingga yang terbaru membakar bendera yang diduga simbolnya.

Sebenarnya cara menampakkan kebencian dan ketidaksepahaman dengan ormas ini tidak perlu sengoyo itu. Toh, HTI berprinsip tak akan memakai kekerasan fisik untuk meraih tujuannya atau menghadapi lawan-lawannya. Jadi tidak perlu cari jimat, main silat, atau belajar ilmu kebal.

Menundukkan HTI dapat dilakukan dengan cara-cara elegan berikut :

1. Tunjukkan kelemahan dalilnya. Sajikan dalil Anda yang lebih kuat. Jika Anda berhasil pada poin ini sebenarnya sudah cukup membuat anggota HTI akan berbondong-bondong meninggalkan pendapatnya dan mendukung pendapat Anda. Bila sudah begini akan menjadi keuntungan luar biasa bagi Anda karena Anda tahu sendiri militansi mereka tak ada yang meragukan.

2. Tawarkan solusi yang dapat menandingi solusi yang digagas HTI yaitu khilafah. Solusi Anda harus bernas, jangan itu lagi itu lagi, yang usang dan terbukti gagal. Bahkan cenderung berupa jargon yang dapat ditafsir kesana kemari. Solusi Anda wajib menjawab persoalan bangsa dari krisis moral dan etika, pergaulan remaja, hingga utang negara dan politik sarat citra. Jika ini berhasil, Anda akan dapat meraup massa HTI yang katanya dapat melambungkan angka golput di Pemilu tahun depan.

Jika Anda gagal, saya sarankan Anda dengan besar hati dan legowo memberi ruang da’wah kepada HTI. Lebih baik lagi jika Anda mendukungnya dan ikut memperjuangkan ide-idenya.

Kesalahan fatal yang selama ini Anda lakukan justru sebaliknya. Anda berbelok mengambil langkah bodoh dan memalukan dengan ancaman fisik, peraturan zalim, dan penghinaan artifisial terhadap simbol-simbol yang anda duga menjadi identitasnya. Hal-hal semacam itu, alih-alih Anda berhasil merendahkan HTI, justru Anda menaikkan daunnya, turut membuktikan keunggulannya. Bahkan, tragisnya, mempertontonkan kezaliman, kedunguan, dan arogansi Anda karena menghadapi kekuatan pemikiran dengan ancaman semena-mena. Ujungnya, masyarakat makin mendekat pada HTI dan mempertanyakan kebenaran ide yang Anda usung.

Jika Anda masih ngeyel menggunakan cara-cara tak ilmiah dan tak beradab, saya jadi curiga. Jangan-jangan Anda memang tidak bisa mengalahkan kekuatan dalil HTI dan tidak bisa menyajikan solusi masalah negeri.

HARGA SEBUAH RUMAH TANGGA

Oleh : Ayin Harlis

(Muslimah Peduli Generasi)

Hampir 600 gugatan perceraian masuk ke Pengadilan Agama Kota Bekasi tiap bulan. Panitra Muda Pengadilan Agama Bekasi, Didin Jamaludin mengatakan, kasus perceraian kebanyakan terjadi pada pasangan muda (http://jakarta.tribunnews.com). Mereka yang usianya di rentang 19 sampai 25 tak mampu mempertahankan rumah tangga saat badai mendera.

Data rentang usia pasangan menjadi pertanda angka perceraian yang menggunung didorong oleh para perempuan yang ingin melepaskan diri dari pernikahan dini. Pernikahan dini menyebabkan pasangan yang belum siap menikah menganggap pernikahan jauh dari kata sakral. Ditambah lagi kematangan emosi yang belum mumpuni (Arman Dhani, 2016). Bagi mereka perceraian adalah hal yang biasa, seperti putus pacaran saja.

Tingginya angka perceraian perlu ditelaah sejak niat muncul untuk menikah. Banyak yang mengetahui hadist nabi bahwa memilih pasangan sebaiknya berdasarkan ketaqwaan. Faktanya, alasan pemilihan pasangan saat ini didominasi alasan abstrak yang tak terukur standar penilaiannya. Misalnya karena cinta, kenyamanan, pengertian, dan lain-lain. Akibatnya, alasan-alasan ini tak dapat menjadi modal penguat saat rumah tangga disapa prahara. Tak dapat memberi solusi saat masalah rumah tangga menghampiri. Sulitnya mencari nafkah membuat suami serba salah dan menjadi pemarah. Tingginya harga beras membuat logika istri tak lagi waras.

Apatah lagi, dorongan situasi tak seiring kesiapan diri. Rangsangan berkasih sayang dimana-mana terpampang. Yang masih berusaha mempertahankan kegadisan terdorong menyegerakan pernikahan. Sayangnya, segera itu belum tentu siap. Yang tak lagi peduli keperawanan, menikah terpaksa tertuntut kehamilan. Rumah tangga macam begini, bagaimana bisa saat diuji dia masih kokoh berdiri?

Harga rumah tangga : separuh agama
Harga sebuah rumah tangga itu tak semurah mahar. Tak senilai dengan perebutan materi harta gono gini. Melepas ikatan rumah tangga tentu tak semudah mengurai simpul pramuka. Bercerai tak hanya berarti mengubah status belaka. Nyonya jadi janda, atau tuan jadi duda.

Harga rumah tangga itu semahal separuh agama. Berkhidmat pada suami hampir setara sujud kepada-Nya. Berbaik-baik dengan istri tanda sebaik-baik diri suami. Bagi istri, suami adalah pengemudi kendaraan tujuan surga. Bagi suami, istri adalah pemenuh hasrat menuai pahala.

Anak-anak buah rumah tangga tak berarti penambah penghuni bumi. Rumah tangga berharga pohon peradaban. Dari rahimnya lahir anak-anak generasi yang mengelola dunia agar lebih mulia. Anak-anak belajar sejak dini kepada orang tua bagaimana merajut institusi sakral bernama keluarga, sebelum mereka memimpin bangsa dengan berjuta warga.

Menyelamatkan perahu rumah tangga umat, butuh keseriusan. Bukan sekedar memberi wejangan saat didaftarkan ke pengadilan, atau surat perceraian tinggal tanda tangan. Edukasi umat harus meliputi bekal memilih pasangan, bekal memelihara buah hati, bekal menyelesaikan ujian rumah tangga, bekal menyuasanakan rumah tangga agar bahagia dan berujung surga.

Kokohnya bangunan rumah tangga secara internal dapat diantisipasi dengan bekal-bekal tadi. Namun tak berhenti di sini. Perlu penciptaan kondisi eksternal yang kondusif bagi bahagianya keluarga secara sosio-kultural. Kesempatan kerja harus terbuka bagi pemuda agar kesiapan nafkah dapat diraihnya. Pergaulan diisi dengan luhurnya budi agar pemudi tak sulit menjaga diri. Lelaki dan perempuan berinteraksi secara terjaga agar tak ada godaan orang ketiga. Pendidikan tak boleh berkutat hanya kognitif-akademik agar pasangan mengenal sejatinya kehidupan.

Harga rumah tangga dibangun oleh kesiapan internal pasangan. Harganya tetap terjaga didukung oleh faktor eksternal sosio kultural. Dengan demikian ikatan rumah tangga menjadi berharga. Perceraian, meskipun ada, akan sedikit jumlahnya.

Generasi Krisis Jati Diri

Oleh: Ummu Zhafira

(Member Akademi Menulis Kreatif)

Miris, lagi-lagi tawuran pelajar menelan korban. Kali ini kasus kenakalan pelajar ini terjadi di Kota Patriot. Seperti dilansir oleh (Kompas.com) seorang pelajar SMK Karya Bahana Mandiri, IP, tewas dalam tawuran yang terjadi pada Kamis (16/8/2018) dengan SMK Pijar Alam di Jalan Raya Sumur Batu, Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.

IP dikabarkan tewas di tempat kejadian dengan luka bacok disekujur tubuh. Ironisnya masih ada dua korban luka berat akibat dari sabetan senjata tajam di tangan dan di kaki.

Tawuran tersebut terjadi berawal dari ejekan lalu saling menantang. Kemudian mereka bersepakat untuk bertemu dan selanjutnya aksi tawuran itu pun terjadi.

Setelah melakukan penelusuran, Polsek Bantargebang menangkap lima pelaku dari SMK Pijar Alam pada Minggu (26/8/2018) dengan mengamankan lima buah celurit, satu buah stik golf, dan lima ponsel sebagai barang bukti.

Kenakalan pelajar berupa aksi tawuran ini bukan kali yang pertama. Tapi serentetan kasus serupa telah berulang kali terjadi di wilayah Bekasi selama 8 bulan terakhir.

Pada awal tahun 2018 lalu, polisi menangkap 25 remaja yang hendak melakukan aksi tawuran di Lapangan Stadion Mini jatiwaringin, Pondok Gede.Tidak berselang lama, aksi tawuran terjadi kembali di Jalan Baru Underpas, Bekasi Timur, Sabtu (13/1/2018). Tiga hari pascaperistiwa di Bekasi Timur, giliran Kepolisian Sektor Bekasi Selatan menangkap tiga orang yang akan melancarkan aksi tawuran. Selanjutnya aksi tawuran berdarah terjadi di wilayah Bekasi Utara, Jalan Kaliabang Bungur (28/1/2018) dengan seorang korban luka bacok. (bekasi.pojoksatu.id/29/8/2018)

Itu hanya kasus yang terjadi di Bekasi dan yang sempat terindera oleh media dan pihak kepolisian. Belum lagi kasus serupa di kota-kota lainnya di seluruh wilayah Indonesia.

Nampaknya kita harus mulai betul-betul memperhatikan lebih serius generasi hari ini. Kenakalan remaja ini bukan hanya sekedar kenalakan biasa yang terjadi akibat keinginan mereka untuk mencari jati diri. Namun hal ini terjadi karena krisis pemahaman agama dari dalam diri mereka.

Berbagai persoalan membelenggu generasi. Dari pergaulan bebas yang menderaskan berbagai kasus perzinahan hingga melahirkan perbuatan keji berupa aborsi. Kemudian maraknya lgbt yang menghantui, dan berbagai macam tindak kriminalitas seperti pembegalan juga tawuran yang berakhir dengan banyaknya korban tewas.

Inilah sebuah realitas yang tak bisa dipungkiri. Bahwa remaja saat ini dalam kondisi yang sangat kritis. Pendidikan sekuler yang diterapkan di negeri ini menjadi akar penyebab dari rusaknya generasi masa kini. Sebuah sistem pendidikan yang menafikkan keberadaan agama dalam perputaran kurikulumnya tentu akan melahirkan generasi miskin jati diri. Kehidupan mereka tidak lepas dari hura-hura yang menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan utama. Tak tersisa sedikitpun kemuliaan hidup yang menjadikan ridlo Allah sebagai cita-citanya.

Seruan William Gladstone – mantan Perdana Menteri Inggris – nampaknya sudah menuai hasil yang nyata. Dia berkata, “Percuma kita memerangi umat islam, Kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemudi Islam ini bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati mereka, baru kita menang dan menguasi mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Maka tanamkanlah dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”

Dengan keseriusannya, Barat telah betul-betul mampu melumpuhkan pemuda-pemudi Islam dengan racun Kapitalis yang bersendikan semangat sekularisnya. Lihatlah generasi ini ! Mereka memang telah kehilangan Al-Qur’an dari dalam dadanya dan tenggelam dengan berbagai aktifitas maksiat yang melenakan.

Tidakkah kita menginginkan sebuah generasi layaknya Muhammad Al-fatih? Generasi pemimpin yang memiliki ketaqwaan tak tertandingi. Mempunyai kemampuan intelektualitas yang tinggi, dan tentu saja terdapat ketangguhan berdaya juang dalam diri mereka. Generasi seperti ini hanya akan lahir dari sebuah sistem yang berasal dari Ilahi.

Karena di dalam Islam, sistem pendidikannya hanya berlandaskan akidah islamiyah. Dan menjadikan kepribadian islamiyah sebagai tujuan utama dari proses panjang sebuah pendidikan. Nah, dari sinilah akan muncul ulama-ulama sekaligus ilmuwan. Generasi yang memahami jati dirinya sebagai seorang hamba yang wajib mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Allah dengan cara senantiasa beraktifitas sesuai hukum-hukum yang telah ditentukan Rabbnya. Tak kan ada lagi generasi yang sibuk pada urusan remeh temeh berbau maksiat. Karena yang ada hanyalah generasi mufakirun siyasiyun yang selalu sibuk untuk senantiasa beramal sholih, menjadi garda terdepan kebangkitan islam dan kaum muslimin.

Begitupun orang tua juga lingkungan dalam sistem Islam, mereka akan memahami pula visi dan misi dalam melahirkan generasi tangguh bertaqwa. Sehingga mereka akan ikut dengan ikhlas mengambil peran dalam mendidik generasi dan mengontrol perkembangannya ke arah yang sesuai dengan yang dicita-citakan. Dan ini tentu saja mereka lakukan atas dasar ketaqwaan kepada Allah saja.

Tidakkah kita merindu akan hadirnya generasi tangguh pembuka Roma? Sudah saatnya bagi kita bersegera hijrah dari peradaban jahiliyah era global menuju peradaban mulia sebagaimana dulu pernah diwujudkan oleh baginda Rosulullah saw. Yakni dengan menerapkan seluruh syariatNya di bawah naungan Khilafah.

KHILAFAH SOLUSI PROBLEM DUNIA

Oleh: Ummu Abdillah

(Alumnus Pendidikan MIPA UNIRA. Pengiat Dakwah)

Dunia Islam semakin terpuruk, miskin, terbelakang, terlilit utang, penuh konflik politik dan sosial, serta tergantung terhadap belas kasihan bangsa-bangsa Barat.

Sungguh menyedihkan, kaum muslimin di negeri-negeri Islam yang sebenarnya kaya akan sumber daya alam justru malah miskin, kualitas sumberdaya manusia relatif rendah, lemah, demikian pula kualitas kesehatannya.

Dalam bidang keyakinan, paham-paham yang melumpuhkan aqidah semakin gencar. Juga, di bidang budaya, kehidupan masyarakat muslim menjadi semakin terbaratkan. Sementara itu, dalam bidang politik dan ideologi kaum muslimin tertipu oleh faham nasionalisme yang dianggap sebagai ideologi.

Tidak berhenti sampai disitu. Persoalan saudara muslim di Palestina, Lebanon, Bosnia, Kosovo, Chechnya, Dagestan, Philipina, Ambon, dan wilayah lainnya belum kunjung terselesaikan. Ditambah lagi musibah terjadi, baik Gempa, Tsunami, Banjir dsb. Ringkasnya, sampai saat ini beraneka ragam problematika menghimpit umat Islam sedunia.

Semua problematika umat di atas lahir dari pencampakan hukum Allah SWT Dzat Maha Tahu diganti dengan penerapan hukum buatan manusia yang memang serba lemah. Hasilnya, ya, munculnya problematika tadi akibat akar persoalan tak diselesaikan dengan benar.

Banyak orang sudah paham demokrasi dengan neoliberalismenya telah gagal. Sayang mereka tak bisa ‘lepas’ dari belenggu kapitalisme sekuler itu ketika mengajukan solusi.

Yang baru diajukan hanya soal ganti rezim. Pengalaman menunjukkan pergantian rezim tanpa diikuti pergantian sistem secara total akan menghasilkan kegagalan yang berulang. Inilah yang terjadi di Indonesia dan banyak negara.

Anehnya, ketika disodorkan Sistem Islam (Khilafah), banyak pihak justru menolak dengan alasan yang dibuat-buat. Bukan negara agama kek,hukumnya kejam, sistem kuno mengancam kedaulatan negara, menimbulkan perpecahan NKRI, bertentangan dengan Pancasila dan sebagainya.

Kesalahan persepsi di atas terhadap sistem Islam (Khilafah )karena dua faktor. Pertama, tidak tahu/mengerti sehingga sekadar ikut-ikutan. Kedua, memang sengaja memusuhi demi mempertahankan ideologi kapitalisme sekuler itu sendiri.

Akibat kesalahan persepsi terhadap ide Khilafah, mereka orang barat beserta antek-anteknya berusaha membungkam ide tersebut dengan melakukan persekusi-persekusi sampai pada pembubaran Badan Dakwanya dari saking takutnya mereka terhadap tegaknya Khilafah.

Padahal secara empiris, sistem ini telah diterapkan hampir 13 abad lamanya dan mampu mengubah peradaban dunia. Tanpa peradaban Islam, dunia Barat tak akan seperti sekarang. Sampai-sampai Guru Besar Undip Prof Suteki SH MHum. Mengatakan “Khilafah bagian dari ajaran Islam, karena di buku fikih atau pelajaran anak sekolah kita mengenal bagaimana mempelajari tentang khilafah, proses khilafah, khilafah itu apa, ada khalifah ada khilafah, masanya terbentang dari tahun kapan sampai terakhir 1924, itu ada di pelajaran, fakta sejarah. Bagaimana kita katakan itu tidak pernah ada?”

Itulah tanggapan Dosen Undip sebagai pengajar akademis pendidikan, padahal beliau bukan orang HTI namun sayang karena ketakutan orang barat dan anteknya, mereka menghalalkan segala cara,untuk membungkam ide Khilafah sampek dengan SK pemberhentian beliau sebagai dosen Undip.

Dari kasus di atas menjadi bukti bahwa institusi ilmiah sudah kehilangan marwah sebagai lembaga pencerdasan umat, agar mereka tunduk terhadap agenda kebijakan politik kapitalisme dengan turus membungkam ide politik Islam.

Karena Barat sangat faham bahwa perubahan itu ada di tangan-tangan pemuda dan orang-orang yang mampu berfikir kritis dan objektif terhadap kedholiman yang terjadi dan hanya Ideologi Islamlah yang mampu memberikan solusi sehingga mereka trus melakukan kriminalisasi terhadap ajaran Islam melalui antek-anteknya dengan harta, kekuasaan dan jabatatan agar gaung Khilafah bisa di padamkan. Namun hakekatnya mereka orang-orang kafir Barat beserta antek-anteknya hanya bisa merusak bunga namun tidak akan bisa menghalangi musim semi datang.

Sistem yang baik itu hanya mungkin berasal dari sesuatu Yang Maha Baik, Dialah Allah SWT. Itulah syariah Islam yang diterapkan dalam naungan Daulah Khilafah.

Dalam konteks Indonesia, sistem Islam tidak akan menjadikan Negeri ini terpecah belah. Justru Khilafah akan mempertahankan kesatuan wilayah Indonesia tanpa tercuil sedikitpun. Bahkan Khilafah akan mengembalikan wilayah Negeri ini yang telah melepaskan diri atau dicaplok Negara lain. Sistem Islam akan mengubah posisi Indonesia menjadi negara adidaya sebagaimana dulu Khilafah pernah jaya dan menjadi mercu suar dunia.

Jadi, seluruh problematika tersebut hanyalah cabang dari problematika utama, yaitu mengembalikan hukum Allah SWT sebagai pemutus segala persoalan hidup umat manusia dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Itulah simpul segala problema yang melanda kaum muslimin. Sebab seluruh syariat Allah SWT merupakan obat atas berbagai penyakit yang diderita umat saat ini.

Dengan pelaksanaan sistem Islam secara kaffah melalui Daulah Khilafah akan lahir masyarakat yang terpelihara akidah, negara, keamanan, kekayaan, keturunan, kemuliaan/kehormatan, akal, dan nyawanya. Apakah Anda tidak berharap hidup di dalamnya?

Mutiara MQ : Sadarilah diri Milik Allah

💙Mutiara MQ💙

Dalam QS. Ali ‘Imran ayat 109, Allah berfirman :

وَللَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلأَْرْضِ وَإِلَىٰ ٱللَّهِ تُرْجَعُ ٱلاُْمُورُ

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.”

Kebanyakan manusia seringkali melupakan bahwa dirinya dan semua rezeki yang ia nikmati sebenarnya adalah milik Allah, Sang Pencipta semesta alam.
Dimana yang namanya pemilik pasti memiliki hak penuh atas yang dimilikinya.

Continue reading

DAUROH TOKOH BEKASI RAYA 2018

Selasa, 24 Juli 218. Agenda rutin 3 bulanan yg dilakukan oleh Forum Silahturahmi Muslimah Bekasi Bersyariah (FOSMISY) kembali dihelat di salah satu ruang pertemuan di kota Bekasi. Forum silah ukhuwah ini senantiasa menggagas pemikiran-pemikiran bernas guna terus menambah pemahaman ajaran Islam yang akan disampaikan ke tengah umat.

Kali ini FOSMISY mengangkat tema yang lumayan berat yakni Urgensi Geopolitik Dalam Pemetaan Dakwah Muslimah Bekasi. Dihadiri oleh 2 pembicara yakni Ir. Sri Herawati (pegiat dakwah) dan Ibu Fika Komara, direktur Imun (Institut Muslimah Negarawan).

Continue reading