Umat Beragama Aman di Bawah Naungan Kepemimpinan Islam

Oleh : Eka Sulastri

Seolah tak habis, suguhan demi suguhan yang menyayat hati, jeritan dari masyarakat yang menjadi korban teror dan rintihan dari korban ledakan bom di Surabaya(13/5/2018).

Nyaris serentak masyarakat bersuara lantang. Menghujat aksi kejam tersebut, bahkan lontaran teroris pun menjadi identifikasi akhir dari kesimpulan kapolri.

Bagaimana sesungguhnya Islam menyikapi aksi terorisme?

Tercatat jelas dalam sejarah Islam bagaimana Khalifah Umar bin Khattab berlaku adil dalam perkara antara seorang Yahudi tua dengan Wali / Gubernur dari Mesir, Amr bin Ash, tentang persengketaan lahan yang hendak dibangun Masjid. Saat kakek Yahudi tua itu meminta keadilan pada sang Khalifah yaitu Umar bin Khattab, beliau hanya memberikan sepotong tulang busuk yang digoreskan di tengahnya huruf alif lurus kebawah dengan tanda palang di tengahnya.

Continue reading

Advertisements

Pernyataan Hizbut Tahrir Indonesia tentang Putusan PTUN Jakarta

PERNYATAAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA
TENTANG PUTUSAN PTUN JAKARTA

Sebagaimana telah diberitakan, putusan PTUN Jakarta pada 7 Mei ini telah menolak seluruh gugatan HTI terhadap putusan pemerintah yang mencabut status BHP HTI yang dibuat pada 19 Juli 2017 lalu. Berkenaan dengan hal itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1. Menolak putusan hakim PTUN tersebut, karena putusan tersebut berarti telah mensahkan kedzaliman yang dibuat oleh pemerintah. Putusan pencabutan status BHP HTI yang dilakukan pemerintah adalah sebuah kedzaliman, karena tidak jelas atas dasar kesalahan HTI apa putusan itu dibuat. Seluruh yang dikatakan oleh pemerintah tentang alasan pembubaran HTI adalah asumsi yang tidak pernah dibuktikan secara obyektif di pengadilan. Mestinya, kedzaliman itu harus dihentikan. Tapi yang terjadi justru dilegalkan. Oleh karena itu, HTI berketetapan untuk melawan keputusan itu dengan mengajukan banding.

Continue reading

Talk Show & Presa Conference Koalisi 1000 Advokat Bela Islam

#AdvokatBelaHTI
#HTIlayakmenang
PRESS CONFERENCE
Koalisi 1000 Advokat Bela Islam
“Pemerintah Tidak Mampu Membuktikan Kesalahan HTI. Demi Hukum, #HTIlayakmenang

Hari ; Ahad, 6 Mei 2018.
Jam ; 10.30 WIB.

LIVE STREAMING
fb.com/indonesiaMilikAllah
fb.com/mediaoposisi

TALK SHOW
“Pemerintah Tidak Mampu Membuktikan Kesalahan HTI. Demi Hukum, #HTIlayakmenang

Pembicara ;
1. Ahmad Khozinudin.,SH. (Ketua Koalisi 1000 Advokat Bela Islam)
2. Chandra Purna Irawan.,SH.,MH. (Sekjen Koalisi 1000 Advokat Bela Islam)

Hari ; Ahad, 6 Mei 2018.
Jam ; 12.00 WIB.

LIVE STREAMING
fb.com/indonesiaMilikAllah
fb.com/mediaoposisi

#AdvokatBelaHTI
#HTIlayakmenang

MELIHAT KEKUATAN GLOBAL HIZB UT- TAHRIR : EXPLAINING THE PERSISTENCE OF HIZB UT-TAHRIR

Oleh : Bruno De Cordier

Situs “New Eurasia” mempublikasikan sebuah artikel yang ditulis oleh seorang cendekiawan bernama Bruno De Cordier dari the University of Ghent di Belgia pada tanggal 16/3/2011 dengan judul: “Explaining the Persistence of Hizb Ut-Tahrir, Menjelaskan Kegigihan Hizbut Tahrir”.

Bruno memulai artikelnya dengan sebuah catatan hasil pengamatannya terhadap Hizbut Tahrir, di mana ia mengatakan bahwa Hizbut Tahrir sebagai kelompok fundamentalis yang mungkin paling banyak dilarang secara resmi di kawasan Asia Tengah dan di tempat-tempat lain.

Namun, meskipun Hizbut Tahrir mendapatkan tekanan dan bahkan tindakan repsesif di setiap tempat, Hizbut Tahrir masih aktif melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan besar.

Continue reading

Remaja Dirindu Syurga

Bekasi, ahad 13 Agustus  2017, kajian remaja muslimah  bekasi kembali mengadakan agenda rutin setiap pekan kedua pada setiap bulannya yaitu, DIARI (Dialog Islam Remaja Bekasi) yang diadakan di masjid Al- Muhajirin.  
Tema yang diangkat bulan ini adalah: “Remaja Dirindu Surga“. Dengan pemateri yang sangat inspiratif yaitu kak wiwin (pemerhati remaja).

Acara yang dipandu oleh MC,  kak vivi dengan gaya khasnya, membuka dan membawakan acara dengan penuh keceriaan yang mampu membuat peserta sangat antusias sehingga peserta pun tambah bersemangat. Acara ini dihadiri oleh puluhan remaja putri dari berbagai sekolah mulai dari SMP,  SMA, Pekerja hingga Mahasiswa.

Pembukaan dimulai dengan pembacaan tilawah QS. Al-Baqarah ayat 24 – 25 yang dibacakan oleh kak azizah. Setelah pembacaan tilawah, maka langsung ke acara selanjutnya yakni ke acara puncak.

Pembicara membuka acara dengan menjelaskan tentang surga dan apa saja kenikmatan yang ada di dalamnya.

Tetapi masalah yang terjadi pada remaja masa kini adalah, terjadi masalah internal(krisis identitas) yang berasal dari pribadi remaja sendiri dan eksternal (krisis multidimensi) yang berasal dari lingkungan pergaulan  yang tidak ada penjaminnya yang berasal dari pemerintah.

Pemateri memaparkan pula sahabat rasul yang berjuang bersama beliau yang sebagian besar adalah remaja. Lalu remaja seperti apakah yang dirindu syurga itu? 

The answer is jadilah agen perubahan (agent of change) dengan cara:

1. Benahi  pola pikir, jadikan islam sebagai solusi utk setiap masalah yang dihadapi 

2. Rapihkan pola sikap,  menjadikan halal dan haram sebagai standar perbuatan 

3. Komitmen  jalaninnya,  menjadi agen perubahan

Dan kunci dari semuanya adalah NGAJI (meNGkAJi Islam).

Di akhir acara, pembicara memberikan kesimpulan untuk para remaja, hidup adalah pilihan dan pilihan yang terbaik adalah islam. 

JADILAH muda,  mulia, dirindu surga. So, let’s move. NOW

Pembicara menerangkan tema  remaja dirindu syurga dengan sangat jelas dan lugas. Sampai pada akhir penjelasan materi dibuka sesi tanya jawab.

Setelah sesi tanya jawab, acara di kembalikan ke mc. Setelah itu ada pembagian doorprise, untuk peserta dengan pertanyaan terbaik dan peserta yang hadir lebih dahulu,  dan dilanjutkan dengan pengisian angket. Terakhir mc menutup dan memberikan informasi diari bulan selanjutnya. []

Mana yg didahulukan, mendidik anak menjadi sholeh atau pintar….?

Sepenggal kisah dr Ust Ismail Yusanto

Mari tundukkan kepala sejenak. .  .

Kisah ini layak jadi pertimbangan

Seorang bapak kira-kira usia 65 tahunan duduk sendiri di sebuah  lounge bandara Halim   Perdana Kusuma, menunggu pesawat yang akan menerbangkannya ke Jogja.

Kami bersebelahan hanya berjarak satu kursi kosong. Beberapa  menit kemudian ia menyapa saya.

“Dik hendak ke Jogja juga?”

“Saya ke Blitar via Malang, Pak. Bapak ke Jogja?”

“Iya.”

“Bapak sendiri?” Continue reading