Ustadz Rochmat S. Labib: Agar Umat Mengingat Khilafah

IMG_0588

Rochmat S. Labib

Sejak 2 April hingga 23 April Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melakukan kampanye Masirah Panji Rasulullah saw. Bahkan pemanasannya sudah dimulai sejak Maret lalu. Sebagaimana namanya, kegiatan ini berupa masirah (semacam longmarch) dengan membawa aL-Liwa dan ar-Rayah Rasulullah saw. secara maraton dari kota ke kota. Para peserta ada yang konvoi dengan mobil dan motor, ada juga yang berjalan kaki. Mereka mengibarkan al-Liwa’ dan ar-Rayah sepanjang perjalanan. Kegiatan ini dimulai dari ujung timur Indonesia, Papua dan dari ujung barat Indonesia, Aceh. Semuanya menuju Jakarta.Mengapa kampanye ini dilakukan? Mengapa pula panji Rasulullah saw lebih difokuskan? Untuk mengupasnya, wartawan majalah Al-Waie, Joko Prasetyo, mewawancarai Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ustadz Rokhmat S Labib. Berikut petikannya. Apa latar belakang kampanye Masirah Panji Rasulullah diadakan?Kampanye ini merupakan bagian dari kegiatan kita dalam momentum Rajab. Sebagaimana kita ketahui, pada bulan Rajab ada beberapa kejadian penting bagi umat Islam. Selain peristiwa Isra’ Mi’raj yang terjadi pada tanggal 27 dan selalu diperingati di negeri ini, juga ada peristiwa besar lainnya yang menimpa umat Islam. Apa itu? Yakni pembubaran Khilafah Islamiyah di Turki oleh Mustafa Kemal pada 28 Rajab 1342 H. Peristiwa tersebut bertepatan dengan 3 Maret 1924. Sejak itu umat Islam di seluruh dunia hidup tanpa Khilafah. Continue reading

Mengembalikan Kemuliaan dan Kewibawaan al-Liwa’ dan ar-Rayah

 

liwa-dan-roya

Al-Liwa’ dan ar-Rayah adalah nama untuk bendera dan panji Rasulullah saw. Walaupun sama-sama disebut sebagai bendera (al-’alam), keduanya memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda. Al-Liwa berwarna putih dengan tulisan khath berwarna hitam ”La ilaha illalLah Muhammad RasululLah.” Al-Liwa’ disebut juga ar-rayah al-’azhim (panji agung); berfungsi sebagai bendera negara atau simbol kedudukan pemimpin. Panji ini tidak dipegang kecuali oleh pemimpin tertinggi peperangan atau komandan brigade pasukan (amir jaisy), yakni Khalifah atau orang yang menerima mandat dari Khalifah sebagai simbol kedudukan komandan pasukan. Al-Liwa’ menjadi pertanda posisi amir atau komandan pasukan dan turut beredar sesuai peredaran amir atau komandan pasukan itu.Adapun ar-Rayah adalah panji berwarna hitam, dengan tulisan khath berwarna putih, “La ilaha illalLah Muhammad RasululLah.” Ukuran bendera ini lebih kecil daripada al-Liwâ’; digunakan sebagai panji jihad para pemimpin detasemen pasukan (satuan-satuan pasukan [katâ’ib]). Bendera ini tersebar sesuai dengan jumlah pemimpin detasemen dalam pasukan sehingga berjumlah lebih dari satu.Banyak hadis yang menjelaskan tentang al-Liwa’ dan ar-Rayah ini, di antaranya dari Ibn Abbas ra.:

«كَانَ لِوَاءُ -صلى الله عليه وسلم- أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ»

Bendera (Liwâ’) Rasulullah saw. berwarna putih dan panji (Râyah)-nya berwarna hitam (HR al-Hakim, al-Baghawi dan at-Tirmidzi). Continue reading

Fungsi Al-Liwa dan Ar-Roya dalam Sejarah Islam

panji ar rayah dan al liwa

Rasulullah saw. adalah teladan yang baik (uswat[un] hasanah) bagi umat Islam (QS al-Ahzab [33]: 21). Apa saja yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. wajib diikuti oleh umat Islam. Sebaliknya, umat Islam haram menyelisihi beliau. Bendera (al-‘alam) termasuk perkara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., juga Khulafaur-Rasyidin sesudah beliau.Bendera Rasulullah saw. ada dua macam yaitu Al-Liwa‘ (bendera putih) dan ar-Rayah (bendera hitam) bertuliskan: Lâa ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Menurut sebagian ulama seperti Imam Ibnul Atsir dalam kitabnya An-Nihâyah fî Gharîb al-Hadîts, juga Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, Al-Liwa‘ dan ar-Rayah adalah sinonim (sama). Namun, pendapat yang râjih (lebih kuat), sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnul ‘Arabi, al-Liwa‘ berbeda dengan ar-Rayah. Dalilnya adalah hadis dari Ibnu ‘Abbas ra. yang mengatakan, “Rayah Rasulullah berwarna hitam, sedangkan Liwa‘-nya berwarna putih.” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).Imam Ibnul ‘Arabi berkata, “Al-Liwa` berbeda dengan ar-Rayah. Al-Liwa` diikatkan di ujung tombak dan melingkarinya. Ar-Rayahdiikatkan pada tombak dan dibiarkan hingga dikibarkan oleh angin.” (Abdul Hayyi al-Kattani, Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah [At-Tarâtib al-Idâriyyah], I/263).Makna Bendera/Panji Rasulullah saw.

Bendera Rasulullah saw., baik al-Liwa‘ (bendera putih) maupun ar-Rayah (bendera hitam) bukanlah sembarang bendera yang berhenti sebagai simbol. Keduanya mengekspresikan makna-makna mendalam yang lahir dari ajaran Islam. Di antara makna-makna di balik bendera Rasulullah saw. tersebut adalah: Pertama, sebagai lambang ‘Aqidah Islam. Pada al-Liwa‘ dan ar-Rayah tertulis kalimat syahadat: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran; kalimat yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Dalam hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Thabrani dari Buraidah ra.  diterangkan, “Rayah Nabi saw. berwarna hitam dan Liwa‘-nya berwarna putih.”

Ibnu Abbas ra. menambahkan, “Tertulis pada Liwa` Nabi saw. kalimat: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh (Abdul Hayyi Al-Kattani, ibid., I/266). Continue reading

BARU TERASA BETAPA RINDUNYA

oleh: Sri Hearwati (ibu RT)

Berbilang tahun waktu berlalu,  tak terhitung sudah moment bersama kawan2 seperjuangan mengibarkan liwa roya di berbagai aktifitas dakwah.

Terkenang kembali saat pertama kali turun ke jalan belasan tahun yang lalu, mengenalkan dakwah ini dan panji2nya sebagai ciri khas setiap perjuangan

Terkenang kembali saat liwa roya berkibar di jantung ibu kota.  Kibaran yg mengetarkan dada, yang membuat terpana setiap yg menatapnya.

Berulang kali menyaksikan liwa roya berkibar di depan istana sang penguasa   dan gedung2 para wakil rakyat. Menjadi saksi ketika para pejuang syariah menyampaikan muhasabah kepada pemilik negeri ini.

Terkenang kembali saat liwa roya menghiasi gedung2 pertemuan, menempel dengan gagahnya di dinding2 gedung ketika pengemban dakwah menyampaikan al haq.

Terkenang kembali saat pejuang2 muda dengan bangganya mengibarkan liwa roya di berbagai agenda parade mengawali setiap seruan dakwah…

Kini air mata berderai ketika akhirnya tiba sudah waktunya larangan membawa dan mengibarkannya. Continue reading

Absurdisitas Pembinaan Karakter pada Sistem Sekuler

Image

“Pagi ini (25/03/2017), di grup WA (WhatsApp), saya menerima foto beberapa Pramuka makan bersama di suatu tempat, namun nasinya ditaruh di rumput tanpa alas. Saya cek, foto tersebut sudah menyebar di media sosial dan mendapatkan kritik keras bahkan kecaman dari anggota Gerakan Pramuka,” ujar Adhyaksa dalam keterangannya di Instagram adhyaksadault yang dikutip detikcom, Sabtu (25/3/2017).  Demikian pernyataan Bapa Adhyaksa Dault dengan kehebohan berita tentang perilaku terkait pembinaan pramuka yang dilakukan oleh pembina gerakan Pramuka di suatu wilayah.

Belum luput dalam ingatan tentang peristiwa tawuran. “Kemarin ada dua kejadian tawuran anak sekolah di TKP yang berbeda dengan 2 korban. Tapi akhirnya pelaku sudah tertangkap semua,” kata Kapolres Bekasi Kota Kombes Hero Hendrianto Bachtiar kepada detikcom, Minggu (12/3/2017).

Dua peristiwa ini menambah catatan kelam kualitas generasi yang ada di negeri ini. Mungkin masih tersembunyi peristiwa-peristiwa lainnya yang sebetulnya cukup menggelitik kita untuk tidak bisa berdiam diri lagi terhadap pola pendidikan yang diterapkan untuk generasi di negeri ini. Apakah kita akan menunggu tawuran lain di titik wilayah Bekasi?

Continue reading

Liberalisme Menghancurkan Ketahanan Keluarga Muslim

​#KampanyeMuslimahPeduliNegeri

#NegaraSokoGuruKetahananKeluarga

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

HTI Press, Jakarta. Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI), Dedeh Wahidah Achmad, mengatakan kebebasan yang diagung-agungkan ide liberalisme terus menggempur keluarga Muslim. “Gempuran liberalisme telah menghancurkan ketahanan keluarga Muslim,” ungkapnya kepada HTI Press, melalui whatsapp, Senin (14/11).

Dedeh kemudian menggambarkan bagaimana sebuah keluarga layaknya sebuah rumah yang akan melindungi para penghuninya dari panas dan hujan serta apapun yang akan mengancamnya, “Rumah itu tempat untuk melepaskan rasa penat dan capek; laksana ladang untuk menanam dan menyemai benih cinta dan kasih sayang; ibarat madrasah yang akan membina iman dan takwa sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan; juga bagaikan kawah candradimuka yang terus mengalirkan panasnya ruh perjuangan demi tegaknya kebenaran di muka bumi. Itulah gambaran ideal sebuah keluarga”. Continue reading