BARU TERASA BETAPA RINDUNYA

oleh: Sri Hearwati (ibu RT)

Berbilang tahun waktu berlalu,  tak terhitung sudah moment bersama kawan2 seperjuangan mengibarkan liwa roya di berbagai aktifitas dakwah. 

Terkenang kembali saat pertama kali turun ke jalan belasan tahun yang lalu, mengenalkan dakwah ini dan panji2nya sebagai ciri khas setiap perjuangan

Terkenang kembali saat liwa roya berkibar di jantung ibu kota.  Kibaran yg mengetarkan dada, yang membuat terpana setiap yg menatapnya.

Berulang kali menyaksikan liwa roya berkibar di depan istana sang penguasa   dan gedung2 para wakil rakyat. Menjadi saksi ketika para pejuang syariah menyampaikan muhasabah kepada pemilik negeri ini. 

Terkenang kembali saat liwa roya menghiasi gedung2 pertemuan, menempel dengan gagahnya di dinding2 gedung ketika pengemban dakwah menyampaikan al haq.

Terkenang kembali saat pejuang2 muda dengan bangganya mengibarkan liwa roya di berbagai agenda parade mengawali setiap seruan dakwah…

Kini air mata berderai ketika akhirnya tiba sudah waktunya larangan membawa dan mengibarkannya.

Betapa hati ini tersentak…

Ya Rabb … diri ini menyesali waktu yg berlalu. Waktu dimana saat2 kesempatan ada di depan mata untuk mengibarkan liwa roya, saat itu belum sepenuh jiwa dan raga mengibarkannya 😭😭😭 

Ya Rabb betapa hari ini baru demikian terasa kerinduan itu. Rindu memegang panjiMu, rindu mengibarkan panjiMu. Rindu hanya sekedar menatap panjiMu.

Berapa hari ini terasa kosong, ada sepi yang menyayat hati,  ada perih yg menoreh luka di dada. Ruangan terasa asing tanpa kehadiran panjiMu.

Betapa diri ini baru menyadari arti kehilangan dan betapa rindunya raga ini mengibarkan panji-panjiMu.

Setu, 23 april 2017

Absurdisitas Pembinaan Karakter pada Sistem Sekuler

Image

“Pagi ini (25/03/2017), di grup WA (WhatsApp), saya menerima foto beberapa Pramuka makan bersama di suatu tempat, namun nasinya ditaruh di rumput tanpa alas. Saya cek, foto tersebut sudah menyebar di media sosial dan mendapatkan kritik keras bahkan kecaman dari anggota Gerakan Pramuka,” ujar Adhyaksa dalam keterangannya di Instagram adhyaksadault yang dikutip detikcom, Sabtu (25/3/2017).  Demikian pernyataan Bapa Adhyaksa Dault dengan kehebohan berita tentang perilaku terkait pembinaan pramuka yang dilakukan oleh pembina gerakan Pramuka di suatu wilayah.

Belum luput dalam ingatan tentang peristiwa tawuran. “Kemarin ada dua kejadian tawuran anak sekolah di TKP yang berbeda dengan 2 korban. Tapi akhirnya pelaku sudah tertangkap semua,” kata Kapolres Bekasi Kota Kombes Hero Hendrianto Bachtiar kepada detikcom, Minggu (12/3/2017).

Dua peristiwa ini menambah catatan kelam kualitas generasi yang ada di negeri ini. Mungkin masih tersembunyi peristiwa-peristiwa lainnya yang sebetulnya cukup menggelitik kita untuk tidak bisa berdiam diri lagi terhadap pola pendidikan yang diterapkan untuk generasi di negeri ini. Apakah kita akan menunggu tawuran lain di titik wilayah Bekasi?

Saat ini pendidikan karakter sering dilakukan melalui beragam kegiatan intra dan ekstrakurikuler. Yang notabene bertujuan untuk membangun karakter baik pada para pelajar atau generasi muda. Kegiatan-kegiatan yang beragam-yang terkadang sering tidak berhubungan dengan pembentukan karakter baik itu sendiri-dilakukan tanpa tujuan yang jelas, bahkan lebih pantas dibilang konyol dan tidak mendidik. Misalnya saja, kegiatan ospek yang mengharuskan memakai pakaian aneh, memakan makanan di sekitar kotoran hewan, dll. Atau misalnya supaya fisik kuat, senior memukul yunior bahkan pukulan dikenakan pada bagian tubuh yang vital. Sampai akhirnya bisa menghilangkan nyawa seseorang, atau meninggalkan dendam yang diwariskan.

Miris. Beginikah model pendidikan karakter anak bangsa yang diharapkan? Tak terbayang, dengan kondisi seperti ini, mampukah terwujud generasi berjiwa pemimpin? Bagaimana wajah negeri ini di masa depan? Alih-alih mewujudkan generasi berjiwa pemimpin, yang ada adalah the lost generation. Sistem pendidikan telah gagal mencapai tujuannya.

Menyoal Pendidikan Karakter

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan  pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk  pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan   warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga   masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat    atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang  banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena  itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni  pendidikan nilai-nilai luhur   yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka  membina kepribadian generasi muda.

Jika kita kembali memahami tentang  tujuan pendidikan di negeri ini bahwa dalam “Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dan sejalan dengan itu pun pada periode 2010-2014, Kementerian Pendidikan Nasional menetapkan visi terselenggaranya Layanan Prima Pendidikan Nasional untuk Membentuk Insan Indonesia Cerdas Komprehensif (insan yang cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual dan cerdas kinestetis), maka dikaitkan dengan dua pernyataan di atas terkait dengan pendidikan karakter dan juga tujuan nasional pendidikan itu sendiri, rasanya semua tujuan dan visi yang mulia itu serasa menggantang asap selama sistem yang diterapkan di Indonesia adalah sistem kapitalisme sekuler. Sistem yang menjauhkan campurtangan agama dalam kehidupan. Di mana Agama hanya dijadikan sebatas pengetahuan dan aturan ritual belaka dan seluruh aturan hidup dibuat berlandaskan keterbatasan akal manusia semata, tentunya mustahil wujud insan berkarakter mulia dapat direalisasikan.

Melihat konsepsi yang dibangun dalam Pendidikan Karakter yang hari ini berkembang, nampak bahwa pemaknaan karakter yang dibangun masih cenderung bertolak pada filsafat humanisme. Humanisme adalah aliran filsafat yang di antara idenya menekankan sebuah kepercayaan bahwa manusia memiliki kekuatan dan kemampuan dalam mengatur hidupnya sendiri.

Sementara itu, peran agama masih terlihat abu abu, bahkan terkesan hanya menjadi unsur simbolik belaka. Rujukan karakter positif masih mengacu pada budaya setempat atau nilai universal, bukan benar benar merujuk pada sumber Ilahiyah yang aplikatif dan praktis. Dengan kata lain, ukuran karakter yang digunakan masih identik dengan konsep sekularisme. Sikap sikap yang dianjurkan tak bertolak pada standar agama.

Sekularisme, telah memisahkan agama dari kehidupan, baik individu maupun bernegara. Menurut sekularisme, agama tak diperkenankan menjadi standar nilai dan hukum dalam ranah publik manusia. Agama hanya dijadikan ajaran spiritual dan simbolik saja, yang dinafikan sebagai sumber hukum bagi manusia dalam praktik ekonomi, politik, sosial-budaya, dan sebagainya.

Alih-alih pendidikan karakter akhirnya masih tetap menjadi persoalan yang membutuhkan jawaban yang menyeluruh untuk mampu merealisasikan karakter bangsa yang diharapkan. Sistem sekuler tidak mampu menguatkan karakter bangsa dalam kemuliaan.

Menjawab Keabsurdan

Mencapai target besar, tentu membutuhkan upaya yang besar. Menetapkan target tanpa menata jalan untuk mewujudkannya, tentulah hanya akan membuat target tersebut berhenti sebatas target. Perlu ada upaya serius dan langkah yang tepat dalam meraihnya.

Upaya untuk membentuk kepribadian unggul secara kolektif, sesungguhnya tak bisa dilakukan secara parsial. Manusia harus dipandang secara utuh. Harus dipahami, manusia adalah makhluk yang berinteraksi dengan kehidupan, alam semesta dan beragam dinamikanya. Karena itu, upaya untuk membangun generasi unggul tak boleh terbatas hanya dalam tataran sistem pendidikan formal dan non formal yang memisahkan agama dari kehidupan sagaimana yang kini dilakukan, agama haruslah tetap dijadikan landasan dalam setiap keputusan yang akan dilakukan

Adanya pembinaan-pembinaan generasi di sekolah untuk membangun sebuah karakter mulia tidaklah bisa hanya diukur dengan nilai dan pendapat manusia semata. Tidak bisa hanya diproses dan direalisasikan sesuai keinginan dan kehendak manusia semata sekalipun menurutnya itu baik. Sebagai contoh, adalah kejadian pramuka seperti yang  tersebut di atas, pemukulan dengan alasan latihan dasar kepemimpinan, aturan ospek yang tidak realistis dll, hanyalah memunculkan pandangan buruk dan musibah kecelakaan bahkan kematian. Sungguh ini pendidikan yang absurd.

Sesungguhnya masih banyak unsur  yang tak kalah penting dan juga berpengaruh  dalam pembentukan kepribadian manusia, yang  termuat dalam tiga elemen yaitu keluarga, masyarakat, dan Negara yang tiga elemen itu tidak boleh terpisahkan dari landasan yang paling mendasar yaitu agama. Jika kemudian Islam sebagai landasan, maka tiga unsur itu dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama: keluarga adalah benteng utama kepribadian setiap anak manusia. Islam memerintahkan setiap Ibu untuk menjadi ummun wa rabbatul bayt. Orangtua adalah pendidik utama bagi anaknya. Ia tak boleh menelantarkan dan mengabaikan anaknya.  Fungsi tersebut hari ini hilang akibat masalah ekonomi yang memaksa seorang Ibu banyak keluar rumah, dan akibat streorip negatif yang diberikan sebagian kelompok masyarakat terhadap status ibu rumah tangga. Hal ini mestilah dirubah dan diperbaiki.

Kedua: masyarakat memiliki fungsi sebagai alat kontrol sosial. Islam menekankan pentingnya amar ma’ruf nahyi munkar sebagai sarana untuk mendorong setiap manusia untuk berkepribadian baik, dan mencegah manusia untuk berbuat buruk. Fungsi ini bukan hanya tanggung jawab para guru atau ustadz, melainkan setiap manusia yang telah menjadikan Islam sebagai agamanya. Tanpa ada batasan usia. Selama Ia berilmu, maka Ia layak untuk melakukannya.

Ketiga: Negara memiliki fungsi yang sangat penting. Negara adalah pihak yang paling berwenang dalam melegislasi aturan bagi setiap aspek kehidupan manusia. Dalam hal ini, Negara mesti menjadikan islam sebagai sumber dalam setiap legislasi yang dilakukannya.

Dalam konteks ini, Negara bisa menetapkan sistem pendidikan yang benar untuk kemudian mengarahkan peserta didik untuk memiliki kepribadian Mulia. Negara juga bisa menetapkan aturan untuk melarang setiap konten merusak generasi muda sebagaimana yang bermunculan di media, seperti televisi maupun internet atau pun kegiatan-kegiatan yang merusak dan tidak mendidik. Negara juga bisa mengembalikan fungsi sumber daya alam yang kini banyak dinikmati asing untuk modal menyejahterakannya rakyatnya. Sehingga pendidikan formal bisa diberikan secara gratis, dan tak ada lagi ibu yang memaksakan diri untuk meninggalkan anak anaknya demi sesuap nasi. Tak hanya itu, Negara juga berwenang untuk memberikan berbagai sanksi yang berdasarkan hukum Islam, sehingga ada efek jera bagi para pelanggar aturan, termasuk pelanggaran yang terjadi.pada generasi muda.

Sesungguhnya, solusi di atas bukanlah hal yang baru dalam khazanah islam. Islam pernah melahirkan generasi emas secara simultan berabad-abad lamanya tatkala Negara Khilafah masih tegak berdiri. Saat itu, bermunculan para ilmuwan yang tak hanya pintar, namun juga memiliki keluhuran budi pekerti yang begitu memukau. Bahkan terkait hal ini, Obama dalam pidatonya di Universitas Al Azhar sendiri mengakui, ”Peradaban berhutang besar pada Islam. Islamlah—di tempat-tempat seperti Universitas Al-Azhar—yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad, dan membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa. Inovasi dalam masyarakat Muslimlah yang mengembangkan urutan aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; keahlian dalam menggunakan pena dan percetakan; dan pemahaman mengenai penularan penyakit serta pengobatannya.” Sayangnya, sejak tahun 1924 telah runtuh. Dengan demikian, generasi emas tersebut dapat terwujud kembali saat sistem yang telah dipaparkan Islam dilanjutkan. Jika sistem yang rusak tidak mampu merealisasikan solusi, kenapa tidak mencoba kembali pada sistem yang sudah merealisasikan kemajuan generasi yang berkarakter mulia. Bukan karakter yang absurd.

Ir. Ummu Azkia Fachrina, MA.

Znalezione obrazy dla zapytania ummu azkia fachrina

Narasumber Program Mar’ah Sholihah Radio Dakta, Pembina Majelis quran Al Manar Bekasi, Praktisi Pendidikan, Aktifis MHTI

 

 

 

 

 

 

Liberalisme Menghancurkan Ketahanan Keluarga Muslim

​#KampanyeMuslimahPeduliNegeri

#NegaraSokoGuruKetahananKeluarga
Dedeh Wahidah Achmad: Liberalisme Menghancurkan Ketahanan Keluarga Muslim

HTI Press, Jakarta. Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI), Dedeh Wahidah Achmad, mengatakan kebebasan yang diagung-agungkan ide liberalisme terus menggempur keluarga Muslim. “Gempuran liberalisme telah menghancurkan ketahanan keluarga Muslim,” ungkapnya kepada HTI Press, melalui whatsapp, Senin (14/11).

Dedeh kemudian menggambarkan bagaimana sebuah keluarga layaknya sebuah rumah yang akan melindungi para penghuninya dari panas dan hujan serta apapun yang akan mengancamnya, “Rumah itu tempat untuk melepaskan rasa penat dan capek; laksana ladang untuk menanam dan menyemai benih cinta dan kasih sayang; ibarat madrasah yang akan membina iman dan takwa sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan; juga bagaikan kawah candradimuka yang terus mengalirkan panasnya ruh perjuangan demi tegaknya kebenaran di muka bumi. Itulah gambaran ideal sebuah keluarga”.

Namun, Dedeh melihat, saat ini keindahannya sudah mulai memudar bahkan hampir hilang. “Harmonisasi di antara penghuninya semakin sulit didapati, cinta dan kasih sayang kian menjadi barang langka; nasihat, ajakan kebenaran dan untaian kalimat dakwah pun jarang terdengar,” terang ibu lima anak ini.

Dedeh menilai, ini disebabkan karena adanya ide kebebasan atau liberalisme. “Kebebasan berperilaku menyebabkan para remaja dan anak kita kian berani menggumbar aurat, seks bebas pun menjadi biasa di kalangan mereka. Bahkan, mereka menjadi korban para penjahat seks,” ungkapnya.

Belum lagi, lanjut Dedeh, atas nama kekebasan berpendapat dan beragama, orang tua pun dilarang menyuruh anaknya untuk taat syariat. Anak pun tidak merasa berdosa ketika membantah dan melawan ayah bundanya.

Sementara itu, tambahnya, ketaatan seorang isteri pada suami yang diwajibkan Islam dihujat para pegiat gender karena dianggap merampas kebebasan perempuan. Simbiosis antara kapitalisme dan liberalisme telah mengeksploitasi para perempuan untuk bekerja mencari nafkah.

“Alih-alih meningkatkan kesejahteraan keluarga yang terjadi justru berujung pada kasus gugat cerai yang terus meningkat. Jadi jelas sekali, liberalisme telah menghancurkan ketahanan keluarga Muslim,” tegas Dedeh. 

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1827316557553236&substory_index=0&id=1735128916772001

Silaturahim Istiqlal: Islam Harus Memimpin Jakarta

HTI Press, Jakarta.  ‘Silaturahim Akbar, Dzikir, dan Do’a untuk Kepemimpinan Ibu Kota’ digelar oleh Ormas-Ormas Islam pada Ahad j (18/9/2016) di masjid Istiqlal, Jakarta.  Inti sikap yang disampaikan adalah Jakarta harus dipimpin oleh Muslim, Jakarta butuh pemimpin baru.  Tampak hadir para tokoh di antaranya Amien Rais, Hidayat Nur Wahid, KH Didin Hafidhuddin, KH Abdurrasyid A. Syafi’i, Habib Rizieq Syihab, Bachtiar Nasir, Zaitun Rahmin, Fahmi Salim, Adnin Marnas, Nachrawi dan Fahrurrazi dari Bamus Betawi, dan Fadlan Garamatan.  Sementara, dari Hizbut Tahrir Indonesia hadir Muhammad Rahmat Kurnia dan Budi Darmawan.

“Masjid adalah tempat awal membangun shaf dengan rapi.  Allah cinta orang yang berjamaah, berbaris rapi,” ujar KH Didin Hafidhuddin dalam acara.  Profesor yang juga Ketua Majelis Pelayan Jakarta ini menambahkan, “Siapa yang paling berjasa terhadap Indonesia? Umat Islam!  Peranan ini tidak boleh dihilangkan. Jika ada pihak yang mengecilkan peran ini, maka umat harus bangkit!”  Hadirin yang memenuhi masjid Istiqlal pun menyambutnya dengan pekikan takbir “Allahu Akbar!” Continue reading

Galeri Diari Sept 2016 “Remaja Rindu Syariah”

Bekasi – Remaja MHTI  (Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia) DPD II Kota Bekasi, bulan ini spesial mengadakan acara DIARI dengan tema “Remaja Rindu Syariah”, pada Ahad (11/9/16). Spesialnya, moment idul Adha ini akan menjadikan remaja lebih semangat rindu akan syariah Islam. Semangat ini yang akan membawa para remaja muslimah untuk selalu menjadikan Syariah Allah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

simak materinya di: https://voiceofmuslimahbekasi.wordpress.com/2016/09/14/remaja-rindu-syariah/

Kali ini kak Khoirunnisa (Aktivis MHTI Bekasi) sebagai narasumber dan kak Efi sebagai moderator. Sajian acara talk show membuat suasana yang berbeda bagi peserta. Di tambah lagi peserta bisa bertanya melalui Whatsapp yang difasilitasi oleh panitia.

Serunya lagi dari acara ini, peserta diajak untuk menulis sebuah harapan “Remaja Rindu Syariah” yang dituangkan dalam secarik kertas. Semakin seru lagi peserta diajak foto bebas dengan memegang properti “Remaja Rindu Syariah”. Wow… kereeen!

Sahabat Diari, jangan sampai terlewatkan ya episode selanjutnya. Diari bakalan tambah seru loh acaranya. Don’t miss it! []

Remaja Rindu Syariah

Oleh: kak khoirunnisa, SEI.

Ngomong-ngomongin tentang remaja yang rindu syariah, taukah sobat diari?… besok tepatnya tanggal 12 september 2016M / 10 dzulhijjah 1437H merupakan hari raya ‘Idul Adha. Sepantasnya kita bersyukur kepada Allah SWT, karena umat Islam di seluruh penjuru dunia bersama-sama menggemakan pujian atas kebesaran Allah SWT. Lebih dari 1,57 milyar kaum Muslimin di seluruh dunia mengagungkan asma Allah SWT melalui takbir, tahlil, dan tahmid sebagai umat yang satu. Satu akidah, satu syariah, satu kiblat dan satu syiar. Pada hari itu pula jutaan kaum Muslim tengah menunaikan ibadah haji. Mereka bersatu di tempat yang sama, dengan pakaian yang sama, dengan syiar yang sama, dengan syariah yang sama dan tujuan yang sama, yaitu mewujudkan ketaatan kepada Allah SWT. Semoga pemandangan ketaatan dan persatuan ini bukan hanya kita lihat hanya pada hari itu, tetapi juga pada hari-hari yang lain. Aamiin… Continue reading