EKONOMI SYARIAH MEMBUTUHKAN PERATURAN MENDUNIA

EKONOMI SYARIAH MEMBUTUHKAN PERATURAN MENDUNIA

Oleh:Ummu Syofiyah
Menurut Co-author Development in Islamic Banking Ishaq Bhatti, Ekonomi Syariah membutuhkan sebuah peraturan standar internasional yang dapat berlaku di semua negara.
“Saat ini masing-masing negara memang sudah memiliki peraturan tentang ekonomi syariah. Namun, masih memberlakukannya secara lokal,” kata Bhatti, di sela Australian Education International, Jakarta, Kamis ( 23/4 ).
Ia mencontohkan karena saat ini masing-masing negara masih memberlakukan peraturan sistem ekonomi syariah secara lokal di negara masing-masing, ada suatu peraturan yang tidak berlaku di negara lain. “Perlu ada suatu sistem yang terintegrasi yang berlaku secara global,” ujarnya.
Menanggapi peryataan Co- Author Development in Islamic Banking Ishaq Bhatti diatas menunjukkan tingkat ketergantungan yang tinggi antar negara di dunia ini tidak terelakkan lagi. Hal itu membutuhkan sebuah tatanan baru yang sesuai dengan sistem ekonomi yang akan dikembangkan. Mengapa sistem ekonomi syariah masih memerlukan aturan international. Mari kita coba membedahnya.

Sistem ekonomi syariah merupakan sub sistem dari sistem Islam. Islam merupakan sebuah sistem yang holistic komprehensif. Selain sistem ekonomi, Islam juga mengatur sistem lain seperti politik, pendidikan, sosial, kesehatan, dll.
Ekonomi Syariah yang merupakan sub sistem dari Sistem Islam maka penerapan ekonomi syariah secara utuh akan banyak menemui benturan dan kendala di lapangan saat ini karena sistem yang diterapkan oleh dunia saat ini adalah sistem ekonomi kapitalis sehingga sangat wajar pernyataan Ishaq Bhatti tersebut.

KEPEMILIKAN DALAM SISTEM KAPITALIS
Dalam Sistem ekonomi kapitalis seluruh harta kekayaan diserahkan pada mekanisme sistem pasar bebas. Bebas dari sisi kepemilikan, bebas dari sisi pemanfaatan kepemilikan dan bebas dari sisi pengembangan kepemilikan. Siapapun berhak memiliki aset-aset yang berjumlah besar karena tidak ada batasan kepemilikan. Untuk menopang sistem perekonomiannya sistem kapitalis membuat sistem keuangannya dengan jasa perbankan konvensional serta pasar modal yang bergerak sesuai dengan laju spekulan dan tingkat bunga. Spekulan yang menyebabkan laju inflasi serta bunga yang susah diprediksi atau bahkan sangat mudah dimainkan sesuai dengan kepentingan pemodal besar. Dari sektor riil perekonomian pada sistem kapitalis banyak dibiayai oleh sistem non riil/pasar uang. Sistem keuangannya berdasarkan riba komersial. Selain itu, pada perbankan konvensional, value of money sangat dipengaruhi inflasi. “Padahal, inflasi tidak bisa diprediksi, sehingga terjadi ketidakpastian yang tinggi karena tidak ada jaminan kestabilan tingkat suku bunga. Hal inilah yang menyebabkan sistem ekonomi kapitalisme senantiasa mengalami gejolak/siklus sepuluh tahunan.

KEPEMILIKAN dalam ISLAM
Di dalam Islam terdapat tiga macam kepemilikan yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara.
•Kepemilikan individu adalah izin dari Allah Swt.. kepada individu untuk memanfaatkan sesuatu. Allah Swt. telah memberi hak kepada individu untuk memiliki harta, baik yang bergerak maupun tidak bergerak. Tentu sepanjang harta tersebut diperoleh melalui sebab-sebab yang dibolehkan, misalnya hasil kerja, warisan, pemberian negara, hadiah, dan lain-lain.
Adanya kepemilikan individu ini, menjadikan seseorang termotivasi untuk berusaha mencari harta, guna mencukupi kebutuhannya.
· Kepemilikan umum adalah izin dari Allah Swt. kepada jamaah (masyarakat) untuk secara bersama-sama memanfaatkan sesuatu.
Aset yang tergolong kepemilikan umum ini, tidak boleh sama sekali dimiliki secara individu atau dimonopoli oleh sekelompok orang. Aset yang termasuk jenis ini adalah: pertama, segala sesuatu yang menjadi kebutuhan vital masyarakat, dan akan menyebabkan persengketaan jika ia lenyap, misalnya padang rumput, air, pembangkit listrik, dan lain-lain; kedua, segala sesuatu yang secara alami tidak bisa dimanfaatkan hanya oleh individu, misalnya sungai, danau, laut, jalan umum, dan lain-lain; ketiga, barang tambang yang depositnya sangat besar, misalnya emas, perak, minyak, batu bara, dan lain-lain.
Dalam praktiknya, kepemilikan umum ini dikelola oleh negara, dan hasilnya (keuntungannya) dikembalikan kepada masyarakat. Bisa dalam bentuk harga yang murah, atau bahkan gratis, dan lain-lain. Adanya pengaturan kepemilikan umum semacam ini, jelas menjadikan aset-aset startegis masyakat dapat dinikmati bersama-sama. Tidak dimonopoli oleh seseorang atau sekelompok orang sehingga yang lain tidak memperoleh apa-apa, sebagaimana yang tejadi dalam sistem kapitalis. Dengan demikian, masalah kemiskinan dapat dikurangi, bahkan diatasi dengan adanya pengaturan kepemilikan umum semacam ini.
· Kepemilikan negara adalah setiap harta yang menjadi hak kaum muslim, tetapi hak pengelolaannya diwakilkan pada khalifah (sesuai dengan ijtihadnya) sebagai kepala negara.
Aset yang termasuk jenis kepemilikan ini di antaranya adalah fa’i, kharaj, jizyah, atau pabrik-pabrik yang dibuat negara, misalnya, pabrik mobil, mesin-mesin, dan lain-lain.
Adanya kepemilikan negara dalam Islam, jelas menjadikan negara memiliki sumber-sumber pemasukan, dan aset-aset yang cukup banyak. Dengan demikian, negara akan mampu menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pengatur urusan rakyat. Termasuk di dalamnya adalah memberikan jaminan kestabilan perekonomian.
Berdasarkan uraian diatas sangat jelas perbedaan sistem kepemilikan dalam Islam dan Kapitalis. Kejelasan kepemilikan dan pengusahaannya ini menjadi salah satu faktor yang determinan dalam terwujudnya roda perekonomian yang stabil dan kondusif.
Sistem ekonomi Kapitalis lahir dari sistem kapitalisme yang mengedepankan akumulasi modal/kepemilikan tanpa ada aturan sector mana yang boleh menjadi milik pribadi, swasta atau negara. Semua individu bebas memiliki apa saja dimuka bumi ini. Sedangkan dalam sistem ekonomi Islam kepemilikan ada aturan jelasnya sesuai dengan uraian diatas.
Dari salah satu sisi ini saja sudah menunjukkan paradigma yang bertolak belakang sehingga sangat naïf jika sistem ekonomi syariah saat ini dipaksakan dengan aturan ekonomi kapitalis karena pasti akan terjadi benturan-benturan sehingga bisa menjauhkan nafas ekonomi Islam.
Ekonomi sebagai salah satu produk kebijakan politis suatu institusi negara akan sangat mudah diterapkan dan diintegrasikan jika merujuk pada sebuah sistem global yang memang lahir dari suatu ideology yang yang menjadi sumber dan nafasnya. Saat ini ekonomi syariah membutuhkan peraturan yang terintegrasi dan menglobal (artinya diterapkan oleh semua negara), maka sejatinya sistem Islamlah/Khalifah yang harus ditegakkan di muka bumi ini. Ketika Khalifah tegak aturan Islam akan diterapkan dan sistem ekonomi syariah tidak akan mengalami hambatan karena rujukan sistem yang dipakai adalah sama. Kebutuhan akan penerapan sistem Islam secara utuh nampakknya memang sudah menjadi kebutuhan seluruh umat dimuka bumi ini, mengingat kehancuran sistem kapitalis sudah didepan mata. Untuk itu mari terus berjuang agar Daulah Islamiyah segera berdiri.

Daftar Pustaka:
1. Dwi condro Triono—Makalah Konferensi Ekonomi Islam di Yogyakarta 2008
2. Hendri Saparini –Makalah Konferensi Ekonomi Islam di Yogyakarta 2008
3. Kompas.com, Jakarta 23 April 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s