HAK-HAK ANAK DALAM BINGKAI SYARIAH ISLAM

HAK-HAK ANAK DALAM BINGKAI SYARIAH ISLAM

(Oleh Ummu Salwa, dirangkum dari berbegai sumber)

Potret Buram Anak Indonesia
Betapa mirisnya hati kita kaum ibu bila menyaksikan betapa banyaknya anak-anak di negeri ini yang hak-hak hidupnya terabaikan. Bahkan nyawanya terancam sejak masih dalam kandungan. Betapa banyak wanita di negeri ini yang melakukan aborsi baik karena alas an ekonomi maupun rasa malu karena hamil di luar nikah. Betapa banyak kasus ditemukannya bayi-bayi mungil yang tak berdosa yang dengan segaja di buang oleh orang tuanya, sebagian ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Anak yang sudah dilahirkan juga tidak mendapatkan gizi yang cukup untuk menpertahankan hidupnya yang layak. Kasus-kasus bayi busung lapar dan ancaman “lost generasion” benar-benar membayangi negeri ini,
Di jalanan, terutama di kota-kota besar betapa banyaknya berkeliaran anak –anak jalanan, gelandangan dan pengemis cilik, yang mempertahankan hidupnya sendiri tanpa ada nafkah dan perlindungan dari pihak lain. Diperkirakan 150.000 anak di kota-kota besar di Indonesia hidup di jalan-jalan, 40.000-70.000 anak, terutama anak perempuan dieksploitasi secara seksual dan terikat dengan jaringan prostitusi anak, sekitar 4000 anak terlibat tindak kriminalitas dan dipenjara, sementara sekitar 120.000 anak terlibat dalam penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang (Kompas, 1/12/2000)
Bukan hanya anak jalanan yang tidak mampu mengenyam pendidikan sekolah, anak-anak dari keluarga miskin termasuk ke dalam 6 juta anak yang tidak sekolah dan ada sekitar 7,5 juta orang yang terancam putus sekolah(Kompas 25/11/2000)
Kesulitan ekonomi bukanlah satu-satunya sebab kondisi buruk anak. Banyak anak dari keluarga yang mampu secara ekonomi pun mulai kehilangan kasih saying dan pendidikan dalam keluarga, karena orang tuanya terlalu sibuk diluar rumah. Teladan dan pembiasaan yang sejatinya dilakukan oleh orang tua, kini digantikan oleh televise. Sementara acara televise yang digemari anak disinyalir memunculkan tindak kekerasan pada anak.
Anak-anak dari berbagai kalangan juga sudah kehilangan untuk tumbuh dan berkembang dalam keamanan. Anak-anak telah menjadi korban kekerasan secara fisik dan seksual. Data pada Pusat Krisis Terpadu (PKT) RSCM januari – april 2001 mencatat 41 korban pemerkosaan anak (rata-rata 10 anak/bln).
Analisis Penyebab Masalah
Apa yang menyebabkan kondisi buruk pada anak tersebut terjadi? Mengapa anak-anak tidak mendapatkan hak-haknya untuk tumbuh dan berkembang dengan baik? Masalahnya kompleks, namun yang terjadi pastilah salah satu atau lebih dari sebab-sebab berikut ini :
1. Pihak-pihak yang bertanggung jawab tidak mengetahui apa saja hak anak yang harus dipenuhinya.
2. Adanya cara pandang yang salah terhadap anak, sehingga pihak-pihak yang terkait tidak sungguh-sungguh memperhatikan hak anak.
3. Ketidakmampuan atau kelemahan keluarga, masyarakat atau negara memenuhi hak anak.
Untuk semua penyebab masalah di atas Islam punya solusi dan pemecahannya.
Hak-Hak Anak Dalam Bingkai Syariah Islam
Islam telah mengatur hak-hak anak dalam sekumpulan hukum yang mengatur kewajiban kedua orang tuanya, masyarakat disekitarnya dan negara. Dengan demikian hak anak merupakan kewajiban dari allah kepada orang-orang yang harus memenuhinya. Karenanya pemenuhan hak anak adalah bagian dari ibadah dan ketundukan mereka kepada Allah SWT.
Hak-hak anak yang harus dijamin pemenuhannya dalam Islam diantaranya :
1. Hak Untuk Hidup
Ketika Islam mengharamkan aborsi dan pembunuhan anak serta mengatur penangguhan pelaksanaan hukuman pada wanita hamil, pada saat itulah kita temukan pengaturan adanya hak hidup bagi anak dalam Islam. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Isro ayat 31 yang artinya “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberikan rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”

2. Hak Mendapatkan Nama yang Baik
Islam menganjurkan agar orang tua memberikan nama anak yang menunjukkan identitas Islam, suatu identitas yang melintasi batas-batas rasial, geografis, etnis,dan kekerabatan. Abul hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Rasullulah SAW : “Ya Rasullulah apakah hak anakku dariku?” Nabi menjawab “engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tempat yang baik”. Sabda Rasullulah SAW yang lain : “Baguskanlah namamu karena dengan nama itu kamu akan di panggil pada hari kiamat nanti” (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

3. Hak Penyusuan dan Pengasuhan (Hadhonah)
Anak berhak mendapatkan penyusuan selama 2 tahun, sebagaimana firman Allah SWT : “Para ibu hendaknya menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya (Q.S Al Baqoroh 233)
Jika ibu tidak mampu member ASI maka Islam mensyariatkan penyusuan pada wanita lain. Sebagaimana firman Allah SWT : “Dan jika kamu menginginkan anak-anakmu disusukan oleh orang lain maka tidak ada dosa bagimu untuk memberikan pembayaran menurut yang patut” (Q.S Al Baqoroh 233)
Islam juga mengatur masalah pengasuhan anak. Anak berhak mendapat pengasuhan yang baik sampai ia mampu mengurus dan menjaga diri sendiri. Islam menetapkan bahwa persoalan pengasuhan anak merupakan kewajiban sekaligus hak orang-orang tertentu. Islampun telah menetapkan bahwa orang yang lebih berhak terampil dalam pengasuhan. Islam menetapkan pihak wanita (ibu) lebih utama dalam pengasuhan ini. Rasullulah SAW pernah ditemui seorang wanita, ia berkata : “ Wahai Rasullulah, Sesungguhnya anakku dulu dikandung dalam perutku, susuku sebagai pemberinya minum dan pangkuanku menjadi buaiannya. Sementara ayahnya telah menceraikanku, tetapi ia hendak mengambilnya dariku. “Kemudian Rasullulah bersabda: “Engkau lebih berhak kepadanya selama engkau belum menikah”
4. Hak Mendapatkan Kasih Sayang
Rasullulah SAW mengajarkan kepada kita untuk menyayangi keluarga, termasuk anak didalamnya. Ini berarti Rasullulah mengajarkan kepada kita untuk memenuhi hak anak terhadap kasih saying. Sabda Rasullulah SAW:” Orang yang paling baik diantara kamu adalah yang paling penyayang diantara keluarganya”
5. Hak Mendapatkan perlindungan dan nafkah dalam keluarga
Ketika Islam memberikan kepemimpinan kepada seorang ayah di dalam keluarga, saat itulah anggota keluarga yang lain, termasuk anak di dalamnya, mendapatkan hak perlindungan dan nafkah dalam keluarga. Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh : 233 yang artinya:….”Dan kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf…”

6. Hak Pendidikan dalam Keluarga
Rasullulah mengajarkan betapa besarnya tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak. Sabdanya SAW : “ Tidaklah seorang anak yang lahir itu kecuali dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi. “ (HR Muslim)
Mendidik anak adalah tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu, sehingga diperlukan pasangan yang seakidah, dan sepemahaman dalam pendidikan anak. Jika tidak demikian tentunya sulit mencapai tujuan pendidikan anak dalam keluarga.
7. Hak Mendapatkan Kebutuhan Pokok Sebagai Warga Negara
Sebagai warga negara, anak juga mendapatkan haknya akan kebutuhan pokok yang disediakan secara masal oleh negara kepada warga negara. Kebutuhan itu meliputi : pendidikan di sekolah, pelayanan kesehatan dan keamanan. Pelayanan massal ini merupakan pelaksanaan kewajiban negara kepada rakyatnya, seperti sabda Rasullulah SAW: “Seorang imam (pemimpin) adalah bagaikan penggembala, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya (HR. Ahmad, Syaikhan, Tirmidzi, Abu Dawud, dari Ibnu Umar).
Apabila hak-hak anak tersebut terpenuhi maka anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berkualitas.
Pandangan Terhadap Anak
Cara pandang yang benar terhadap anak merupakan langkah awal menuju optimalnya usaha pemenuhan hak-hak anak. Islam mengajarkan untuk memandang anak sebagai :
1. Perhiasan Dunia
Anak merupakan perhiasan dunia yang akan menyenangkan hati orang tua, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al Kahfi ayat 46 yang artinya: “Harta benda dan anak-anak itu sebagai perhiasan hidup di dunia”
2. Jaminan Bagi Orang Tua Di Hari Kiamat
Orang tua yang telah bersusah payah membesarkan, memelihara dan mendidik anak-anaknya dengan sabar akan mendapat imbalan yang sangat besar dari Allah SWT, yaitu Surga. Sebagaimana Riwayat dari Auf bin Malik ra bahwa Rasullulah SAW bersabda : “Barangsiapa memiliki 3 anak perempuan yang dinafkahinya dengan baik sampai mereka menikah atau meninggal dunia, maka anak-anak itu menjadi tabir baginy dari neraka” .
Juga riwayat dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasullulah SAW bersabda: “Ada seorang hamba yang ditinggikan derajatnya. Lalu ia bertanya: Wahai Rabbku, mengapa derajat ini diberikan kepadaku? Allah berfirman: Sebab permohonan ampun anakmu sesudah meninggalmu” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi).
3. Sebagai Aset Masa Depan Umat
Islam mensyariatkan pernikahan pada umatnya, bahkan mencela orang-orang yang tidak mau menikah (tabattul). Islam juga menganjurkan agar laki-laki memilih calon istri yang penyayang, subur dan sholehah, sebagaimana riwayat Anas ra, ia berkata:”Rasullulah menganjurkan para pemuda untuk kawin dan melarang keras untuk tabattul. Dan beliau bersabda:”Kawinlah kalian dengan wanita-wanita yang penyayang dan subur, sesungguhnya dengan kalian saya ingin memperbanyak ummat diantara para nabi pada hari kiamat nanti”(HR. Imam Ahmad dan Abu Hakim)
Islam juga mensyariatkan untuk memperhatikan kualitas generasi penerusnya, sebagaimana Q.S An-Nissa ayat 9 yang artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka…”
Dari hadis dan ayat diatas dapat dipahami bahwa ada tuntutan bagi kaum muslimin untuk menjamin kelestarian generasi masa depan dan mewujudkan generasi yang berkualitas baik.
Penutup
Islam memiliki bingkai syariah yang sangat komplit mengenai hak-hak anak dan cara pemenuhannya. Menghadapi kondisi buruk anak-anak Indonesia saat ini, seharusnya kita sebagai umat islam, sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat, harus menyelesaikan masalah anak yang ada dengan ajaran islam. Pada saat kita menyadari begitu banyak hak anak yang tidak terpenuhi karena negara tidak memenuhinya , pada saat itulah seharusnya kita mulai berjuang untuk menegakkan kekuasaan islam yang mengaplikasikan ajaran islam dalam seluruh sendi kehidupan.

One thought on “HAK-HAK ANAK DALAM BINGKAI SYARIAH ISLAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s