MEMILIH KEPALA NEGARA

Allah SWT mewajibkan setiap muslim untuk taat kepada syariat-Nya dan mengatur setiap aspek kehidupan pibadi, masyarakat dan negara dengan syariatnya itu, selama dia beriman kepada Allah SWT.  Allah berfirman,

Sesungguhnya perkataan orang-orang yang beriman bila diserukan kepada Allah dan RasulNya untuk menerapkan hokum (syariat Islam) diantaranya mereka, mereka menyatakan kami mendengar dan kami taat.  Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. An-nur : 51)

maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu (QS Al Maidah : 48)

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu (QS Al Maidah : 49)

Syariat Islam tidak mungkin bias dilaksanakan secara utuh tanpa Negara Islam (Khilafah).  Individu bias saja melaksanakan sebagian hokum, seperti ibadah, makanan, pakaian dan akhlak.  Sementara hokum-hukum syara lain yang berkaitan dengan system pemerintahan, ekonomi, pendidikan, system persaksian dan hudud, system informasi, hubungan internasional serta jihad dan perang, semuanya tidak bias dilakukan oleh individu, melainkan harus oleh Negara.

Indonesia saat ini sedang menghadapi pemilihan kepala Negara.  Indonesia merupakan negeri islam terbesar, dari aspek jumlah penduduknya (kurang lebih 240 juta jiwa, 200 juta lebih diantaranya adalah muslim).  Inilah yang menyebabkan Indonesia layak untuk menegakkan khilafah, memimpin seluruh umat islam, dan mengintegrasikan seluruh negeri islam dengan khilafah, agar secara keseluruhan mereka menjadi kekuatan besar yang dibangun berdasarkan aqidah dan syariah islam, mengemban risalah islam ke seluruh dunia serts mengembalikan keadaan umat islam semula seperti yang digambarkan oleh Allah SWT :

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah (QS Ali Imran ; 110)

Saat ini jarak tidak lagi menjadi persoalan, bahkan di seluruh dunia kini seakan-akan menjadi kota kecil, dengan bantuan media massa dan sarana komunikasi.

Kaum muslimin adalah umat yang satu, dan mereka harus mempunyai satu Negara, yaitu khilafah, dan satu kepala negara, yaitu khalifah, yang memerintah berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah,

Para imam mazhab  telah bersepakat, bahwa : “Imamah hukumnya fardhu, dan bahwa kaum muslim harus mempunyai seorang imam yang menegakkan syiar islam, dan mengembalikan keadilan kepada orang-orang yang dizalimi dan orang-orang yang zalim.  Bahwa kaum muslim pada waktu yang sama di seluruh dunia tidak boleh mempunyai dua imam, baik keduanya bersepakat, maupun keduanya berpecah”

Sungguh merupakan sesuatu yang mengherankan dan memalukan, rakyat Indonesia yang muslim rela terhadap sistem kufur sekuler yang ditetapkan kepada mereka meskipun mereka telah mencium kebusukannya, dan justru mereka meninggalkan dan menjauhkan system Islam.  Padahal system Islam adalah system yang benar, yang telah diturunkan oleh wahyu dari sisi Allah SWT.  Allah menyatakan system tersebut :

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (QS. Al Maidah: 03)

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha 123-124)

Nabi SAW bersabda : “ Satu sanksi hudud yang diterapkan di muka bumi, lebih baik bagi seluruh penduduk bumi, ketimbang mereka dihujani empat puluh pagi (HR An- Nasai dan Ibn Majah)

Ada perbedaan antara hukum kepala Negara dalam islam dengan kepala Negara dalam system sekuler.  Dalam system sekuler, kepala Negara dipilih untuk melaksanakan undang-undang buatan, yang dibuat oleh manusia dan bertentangan dengan syariat Allah.

Sedangkan di dalam islam, pembuat hokum atau yang berhak membuat hukum hanyalah Allah SWT, bukan rakyat, bukan wakil rakyat dan juga bukan kepala Negara.  Dan karena kepala Negara dipilih oleh umat untuk melaksanakan hokum Allah, sehingga harus mengadopsi syariat islam yang bersumber dari Al quran dan As sunah serta apa yang ditunjukkan oleh keduanya, yang dinilai sebagai pendapat terkuat untuk dijadikan undang-undang Negara, dan dengan undang-undang itu kepala negara mengurus segala kepentingan masyarakat.  Telah diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit bahwa beliau telah berkata :

Kami telah membaiat Rasullulah  SAW untuk setia mendengarkan dan mentaati perintahnya, baik dalam keadaan susah maupun mudah, baik dalam keadaan yang kami senangi maupun yang tidak kami senangi (HR. Muslim)

Dengan demikian, kepala Negara dalam system politik islam merupakan perwujudan dari kekuasaan di tangan rakyat guna mewujudkan kedaulan syariat, bukan kedaulan rakyat.  Umat atau rakyat merupakan factor penentu apakah hukum syara yang akan diterapkan, ataukah hokum thagut, apakah kedaulatan tetap berada di tangan manusia, ataukah di ambil dari apa yang diturunkan oleh Allah ?

Oleh karena itu, dalam memilih kepala Negara  setiap muslim haruslah memperhatikan hal-hal berikut :

  1. Selain syarat-syarat utama tadi, diutamakan kepala negara memiliki syarat afdholiyah (keutamaan) seperti mujtahid, pemberani, dan politikus ulung.

2. Memilih kepala Negara yang mampu menjamin kekuasaan atas negeri ini agar tetap independent (merdeka) dari cengkraman kaum kufar dan hanya bersandar pada kaum muslim. Dengan kata lain, kepala Negara itu mampu mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya dari cengkraman asing, bukan sebaliknya dengan membiarkan negeri ini tetap dalam cengkraman dan dominasi kekuatan asing, baik dalam bidang social, politik, ekonomi, budaya, keamanan ataupun yang lain. Dalam hal ini Allah SWT berfirman :

Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kalian.. (Q.S An Nisa: 59)

Kata minkum (diantara kalian) maknanya adalah dari kalangan kaum mukmin, karena merekalah yang diseur.  Allah juga berfirman:

Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum mukmin (Q.S An Nisa : 141)

Menyangkut keamanan, kepala Negara yang akan dipilih harus mampu meletakkan keamanan negeri ini semata di tangan warganya dan bukan ditangan warga Negara asing imperialis.  Ia tidak boleh mengijinkan adanya cengkraman kekuasaan Negara kafir imperialis terhadap tentara dan polisi dan tidak membolehkan Negara asing membuat pangkalan militer di wilayahnya serta tidak membiarkan mereka mengintervensi kebijakan keamanan di dalam negeri.

  1. Melaksanakan syariat Islam secara utuh dan menyeluruh secara konsisten. Allah SWT berfirman :

Tidak ada hukum melainkan milik Allah, Dia memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain-Nya (Q.S Yusuf : 40)

Juga firman-Nya :

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (Q.S An-Nisa: 65)

  1. Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyatukan negeri-negeri muslim di seluruh dunia sehingga kaum muslimin benar-benar dapat mewujudkan persatuan dan kekuatan utama di pentas dunia di bawah naungan Khilafah Islamiyyah.  Sesungguhnya umat islam adalah bersaudara bagaikan satu tubuh sehingga system dan kepemimpinannya pun harus satu.  Nabi SAW bersabda:

Jika ada dua khalifah telah dibaiat, maka bunuhlah yang terakhir (dibaiat) diantara keduanya (HR. Muslim)

Kesatuan mereka itulah satu-satunya yang akan melahirkan kekuatan, dan dengan kekuatan itulah kerahmatan (islam) akan terwujud di muka bumi, dan mempertahankan negeri-negeri muslim dari dominasi, penindasan dan penjajahan negeri-negeri kafir seperti yang terlihat di irak, afganistan, palestina dan sebagainya.

Akhirnya, semua berpulang kepada umat islam, apakah negeri ini akan terus dipimpin oleh penguasa zalim dan dikendalikan oleh system sekuler dengan mengabaikan syariat islam sehingga terus terpuruk ataukan sebaliknya? Yaitu, terpilih pemimpin yang amanah dan menegakkan syariah sehingga kedamaian, kesejahteraan dan keadilan benar-benar akan terwujud. Begitu  juga semua berpulang kepada mereka, apakah negeri-negeri muslim akan terus tetap tercerai berai seperti sekarang, dan tenggelam dalam kehinaan, seperti kondisi di irak, afganistan, palestina, dan sebagainya, atau sebaliknya semakin menyatu sehingga izzul islam wal muslimin juga benar-benar akan berkibar.

Karena itu umat islam di Indonesia sebagai pemegang kekuasaan hendaknya memperhatikan momentum tersebut, dimana pemilihan kepala Negara tersebut akan tiba waktunya. Mereka harus mempunyai kepala Negara dengan syarat-syarat yang disebutkan diatas. Dan hendaknya mereka tetap berusaha untuk menyiapkan dan mengangkat kepala Negara untuk menegakkan syariat islam, sebagai ganti system sekuler, menerapkan islam secara total, dan menyatukan negeri-negeri tersebut di bawah naungan Khilafah islamiyah.

Wahai umat islam, inilah saatnya. Ambillah langkah yang benar, salah mengambil langkah berarti turut melanggengkan kemaksiatan.  Marilah kita renungkan firman Allah SWT :

Hai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila rasul menyeru kepada kamu, kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan (QS. Al Anfal: 24)

By:  Sri Herawati (14/05/09)

2 thoughts on “MEMILIH KEPALA NEGARA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s