Parpol Islam Sejati

Wednesday, 25 March 2009
Hampir setiap pemilu, turut pula beberapa partai Islam. Dalam anggaran dasarnya jelas tercantum Islam sebagai asasnya. Beberapa simbol dan  slogannya pun menggunakan Islam. Namun, cukupkah itu menjadi ukuran sebuah partai dapat disebut Islami?

ImagePartai politik, dalam bahasa Arab dikenal dengan al-hizb al-siyâsiy. Secara definitif, partai politik berarti sekumpulan orang yang terikat oleh sebuah ideologi; mereka berkeinginan kuat dan berjuang mewujudkan ideologi di tengah kehidupan. Dengan pengertian tersebut, maka ideologi dalam sebuah partai politik menempati peran sentral. Sebab, ideologi partai itulah yang menjadi alat pengikat bagi semua anggotanya dalam bergerak dan berjuang. Ideologi juga menjadi penentu arah dan tujuan perjuangan partai serta program-progam yang dicanangkan. Itu pula yang harus dilakukan partai politik ketika menjadikan Islam sebagai ideologinya.

Fardhu Kifayah

Sebagai dîn kâmil wa syâmil (agama yang sempurna dan lengkap), Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia; baik sebagai individu, kelompok, dan masyarakat. Berkaitan dengan keberadaan partai politik, Islam telah mewajibkan umatnya untuk mendirikannya. Kesimpulan ini didasarkan pada firman Allah “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS Ali-‘Imran [3]: 104).

Di dalam ayat ini umat Islam diperintahakan mengadakan suatu ummah. Menurut al-Raghib al-Asfahani, pengertian ummah secara bahasa adalah setiap jamaah yang dipersatukan oleh suatu perkara, baik perkara itu berupa agama, zaman, atau tempat yang sama; yang bersifat paksaan atau ikhtiari. Oleh karena itu, banyak mufassir yang memaknai kata ummah dalam ayat ini sebagai jamaah. Kalau demikian, mengapa bisa dijadikan sebagai dalil wajib berdirinya partai politik?

Kesimpulan ini dapat dirunut sebagai berikut. Aktivitas yang wajib dikerjakan oleh jamaah tersebut adalah mengajak kepada Islam dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dan itu ditujukan kepada siapa saja, termasuk kepada para penguasa. Bahkan, melakukan amar ma’ruf kepada penguasa merupakan amal yang amat penting. Dalam Hadits Nabi SAW dikategorikan sebagai afdhal al-jihâd (jihad yang paling utama). Pelakunya, apabila terbunuh, juga disebut sebagai sayyid al-syuhadâ’ (penghulu para syahid). Apabila amal ini ditinggalkan oleh sebuah jamaah, berarti jamaah tersebut belum memiliki karakteristik sebagaimana diperintahkan ayat ini. Di sisi lain, amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa itu termasuk sebagai amal siyâsi (aktivitas politik). Oleh karena itu jamaah yang melakukan amal itu pun dapat disebut sebagai partai politik.

Keberadaan partai politik tersebut hukumnya fardhu. Alasannya karena terdapat banyak qarînah (indikasi) lain yang menunjukkan bahwa ajakan tersebut adalah suatu keharusan (wajib). Salah satu qarinah tersebut adalah hadits Nabi SAW: “Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, sungguh kalian (mempunyai dua pilihan, yaitu) melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, ataukah Allah akan mendatangkan siksa dari sisi-Nya yang akan menimpa kalian. Kemudian setelah itu kalan berdoa, maka (doa itu) tidak akan dikabulkan.” (HR. at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi). Kewajiban itu digolongkan sebagai fardhu kifayah karena bila sudah ada yang mendirikannya, sesuai dengan karakteristik yang ditetapkan syara’, maka sudah menggugurkan kewajiban yang lain untuk mendirikannya lagi.
Parpol Islam

Partai politik yang diperintahkan untuk didirikan itu harus berideologi Islam. Alasannya, kelompok yang diperintahkan didirikan adalah kelompok yang mengemban tugas dakwah Islam dan amar ma’ruf nahi munkar. Konsekuensinya, ide-ide, hukum-hukum, dan pemecahan masalah yang diadopsi oleh kelompok, organisasi, atau partai tersebut harus bersumber dari Islam. Ini hanya bisa terjadi jika kelompok atau partai politik itu berideologi Islam. Berbeda halnya ketika partai politik itu didasarkan kepada paham atau ideologi selain Islam, seperti sosialisme, kapitalisme, nasionalisme, dan sebagainya. Niscaya kelompok atau partai tersebut akan menyerukan dan memperjuangkan paham atau ideologi kufur itu. Suatu tindakan yang dilarang keras (lihat QS Ali Imron [3]: 85).

Partai politik itu harus bertujuan untuk melanjutkan kehidupan Islam kâffah, bukan untuk meraih kursi yang banyak di parlemen, beraktivitas sosial, memperbaiki akhlak atau qalbu, dan lain-lain. Sebab Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuh kalian yang nyata (TQS al-Baqarah [2]: 208). Karena keseluruhan syariah itu hanya bisa tegak dalam Daulah Khilafah, maka partai politik itu wajib memperjuangkan tegaknya Daulah Khilafah ketika belum berdiri. Ketika daulah khilafah sudah berdiri, partai politik itu turut bertugas menjaga kelangsungannya.

Dalam aktivitas praktisnya, partai politik itu wajib mengadopsi ide-ide, pendapat-pendapat dan hukum-hukum Islam dalam kedudukannya sebagai sebuah partai. Hal ini adalah wajib secara syar’i, karena akan menyempurnakan langkah perjuangannya, demi menerapkan syariah dan khilafah.

Dalam perjuangannya, partai politik itu wajib selalu terikat dengan hukum syara’. Sebab hukum syara’ adalah asas bagi seluruh tindakan dan aktivitas perjuangan dan standar dalam menentukan sikap terhadap berbagai pemikiran, peristiwa, dan kejadian dalam masyarakat. Oleh karena itu, partai politik Islam tidak boleh melakukan kebohongan, fitnah, suap-menyuap, dan berbagai perbuatan haram lainnya untuk menarik dukungan dari masyarakat.

Ide dasar (fikrah) maupun metode (tharîqah) yang dimiliki oleh partai politik itu harus bersifat ideologis, jelas, dan tegas hingga ke bagian-bagian yang terkecilnya. Tidak ada kesamaran sedikit pun di dalamnya. Metodenya juga hanya mengikuti metode dakwah Rasulullah SAW. Sebab, beliau adalah uswah hasanah, (lihat QS. al-Ahzab [33]: 21), termasuk dalam mengemban dakwah Islam. Semua yang diperintahkan beliau, dijalankan; sebaliknya semua yang dilarang beliau, ditinggalkan (QS al-Hasyr [59]: 7). Oleh karena itu, partai politik tidak boleh menggunakan kekerasan (fisik) dalam perjuangannya. Ketika beliau berdakwah di Makkah, beliau sama sekali tidak menggunakan kekerasan sekalipun beliau dan banyak kaum Muslim disiksa dan dianiaya oleh kaum kafir. Beliau berjuang secara fikriyyah (menyebarkan pemikiran Islam) dan siyasiyyah (melakukan aktivitas politik).

Partai politik Islam bukan partai politik yang terbuka, menerima dan membolehkan semua orang, termasuk orang kafir menjadi anggotanya. Alasan kemaslahatan, seperti segera menang, lebih mudah diterima masyarakat, dan lainnya tidak boleh dijadikan sebagai alasan. Sebab, dalam QS Ali-‘Imran [3]: 104 disebutkan (minkum), yang berarti sebagian dari kalian. Karena kata ganti kalian kembali kepada al-ladzîna âmanû, maka partai ini hanya terdiri dari kaum Muslim.

Ikatan yang menjalin anggota partai politik, simpatisan, maupun para pendukungnya adalah ikatan akidah Islam. Tidak boleh berdasarkan ‘ashabiyyah’ (ikatan berdasarkan golongan, kesukuan, nasionalisme). Tujuan utama yang melandasi semua orang yang tergabung dalam partai ini pun haruslah untuk mendapatkan ridla Allah SWT. Tujuan itu akan membuat partai itu kokoh, tidak mudah terpengaruh godaan duniawi.

Nyatalah, partai politik Islam bukan sekadar menjadikan Islam sebagai asas secara formal tanpa realisasi; juga bukan berslogan Islam tanpa bukti. Apalagi ikut-ikutan latah mengikuti partai politik sekuler. Di tengah membludaknya jumlah partai yang kini tengah berkompetisi, adakah yang memiliki karakteristik sebagaimana dikehendaki Islam? Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.[] abee ramadhani & abu burhanuddin/www.mediaumat.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s