MODAL UTAMA KEBANGKITAN HANYA DENGAN ISLAM

Tepat 20 Mei 2009 Kebangkitan Nasional memasuki usia 81 tahun. Ikrar yang dikumandangkan pemuda-pemuda Indonesia guna membangkitkan gelora dan semangat perlawanan terhadap penjajah. Dan sudah 64 tahun   tonggak cita-cita bangsa Indonesia ditancapkan dan panji-panji kebangkitan dikibarkan. Namun, nyatanya yang terjadi saat ini tidak sesuai dengan harapan. Berbagai krisis dan bencana silih berganti menyapa bangsa ini tiada henti-hentinya secara bergantian. Apakah yang menyebabkan semua ini terjadi? Kenapa hal ini dapat terjadi pada negara dengan penduduk  mayoritas muslim ini ?Sungguh ironis.

Kebangkitan bangsa yang digembar-gemborkan dari masa silam hingga saat ini oleh para perintis bangsa masih jauh panggang dari api. Yang ada hanyalah kebangkitan semangat kebangsaan (nation) tetapi tidak menuju kesejahteraan bangsa (welfare state). Penguasa, pemilik modal berkolaborasi dengan  komprador-komprador asing dan antek-antek kapitalis guna menggerogoti kekayaan bumi Indonesia. Kekayaan alam  Indonesia dijarah, digali, hasilnya diangkut keluar negeri. Inilah realitas kebangkrutan negara Indonesia. Elit penguasa dan pemilik modal,  mereka berpesta pora sedangkan rakyatnya menderita. Semuanya disebabkan karena bangsa Indonesia tidak pernah mandiri, tidak percaya diri dan  selalu bergantung kepada asing yang pada akhirnya rakyat jualah yang ditimpa kesengsaraan dengan intensitas yang terus bertambah.. Ketergantungan pada asing terjadi bukan pada masa sekarang saja, tetapi sudah dimulai sejak masa pemerintahan Soekarno.

Seorang futurolog Islam Indonesia dari ITB, Armadi Mahzar dalam bukunya “Revolusi Integralisme Islam”, pernah menyatakan terdapat tiga bentuk penjajahan yaitu Pertama, menggunakan senjata untuk menduduki wilayah secara fisik pada era kebudayaan Islam dan tulisan. Tapi penjajahan ini telah lama hilang dari nusantara ini, tidak ada lagi kekuatan fisik. Kedua, menggunakan ekonomi dan ideologi untuk menguasai perilaku dan kesadaran manusia dalam era kebudayaan cetak. Ketiga, imagologi untuk menguasai bawah sadar jiwa manusia-manusia yang hendak dijajahnya dalam era kebudayaan eloktronik. Dan  saat ini penjajahan yang terjadi di Indonesia adalah bentuk penjajahan kedua dan ketiga. Sebagian rakyat negeri kita  tidak menyadari bahwa representasi dan hegemoni asing telah lama bercokol disini lewat perpanjangan tangan birokrasi dan peran negara  yang tidak pro kepada rakyat tetapi pro terhadap konglomerat yang kerap mengganggu arus kas APBN yang seharusnya untuk rakyat malah di rampok, dikorupsi dan berpindah tangan kemanca negara. Negara telah berulang-ulang melakukan kesalahan. Bukan hanya kesalahan, ini semua buah dari kebodohan penguasa negeri ini.

Ternyata sistem yang ada di negara kita saat ini dilihat dari segala aspek, baik ekonomi dan politiknya adalah sistem kapitalisme yang diemban oleh negara dan menghilangkan peran rakyat sendiri sebagai subyek-obyek negara. Negara yang seharusnya melayani rakyatnya malah mengabdi dan menghamba kepada bangsa asing lewat lembaga-lembaga yang sebenarnya penghisap darah semisal IMF, negara-negara G7, World Bank, dan lain-lain. Yang terlihat Kepemimpinan  di negeri ini sudah tidak ada kemandirian dan rasa percaya diri  yang tinggi untuk melepaskan diri dari keterikatan dan cengkeraman asing serta mengusir mereka dari bumi Indonesia. Dalam hal ini bukan berarti kita mesti apatisme, xenophobia tetapi harus mencoba meminimalisasikan peran asing di nusantara karena bagaimana pun kekayaan negeri ini adalah hak rakyat.

Sebenarnya banyak cara agar negeri ini bisa makmur dan sejahtera tanpa harus tergantung pada asing, diantaranya penguasa negeri ini harus mandiri dan percaya diri dengan adanya kemauan dan keberanian untuk mengambil alih kembali sumber-sumber kekayaan alam yang selama ini terlanjur diserahkan kepada pihak asing atas nama privatisasi. Karena aktifitas tersebut telah diharamkan secara syar’i.

Sabda Rosullulloh : “Kaum muslim bersekutu (memiliki hak yang sama) dalam 3 hal, padang gembalaan, air dan api.(HR. Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).

Makna dalam hadis diatas jelas mensyaratkan bahwa negara hanyalah pengelola,  dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran masyarakat. Pengelolaan dapat juga diserahkan kepada swasta atau asing  dengan kebijakan tetap ada ditangan penguasa. Pengelola hanya pada teknis pelaksanaan, hal-hal strategis tetap negara yang berperan dan bertanggung jawab. Hasil pengelolaan oleh negara dimanfaatkan pada semua sektor terutama sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, Dengan cara ini saja, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat akan terwujud. Syaratnya penguasa negeri ini dengan dukungan semua konglomerat, harus berani menerapkan Syariah Islam secara total dalam semua aspek kehidupan untuk mewujudkan kembali institusi Khilafah Islamiyah. Wallohu a’lam.

By: Ummu Najdah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s