Veteran Tentara AS: “Kami Tidak Pernah Menemukan Teroris”

Malam ketika peristiwa pemboman menara kembar WTC pada 11 September 2001 terjadi, Rick Reyes, seorang kopral angkatan laut042309tns_Combatvets251 AS tengah bersenang-senang di sebuah klub malam di Australia. “Amerika diserang. Kembali ke kapal Anda segera!” begitu yang bisa diingat oleh Reyes ketika itu.

Malam itu juga, sersan yang membawahi Reyes bertanya kepadanya apakah ia siap untuk bertempur. Tanpa berpikir dua kali, Reyes menjawab, “Untuk inilah saya bergabung dengan militer.” Seumur hidupnya, Reyes selalu ingin mengabdikan dirinya untuk negaranya. “Itu impian saya sejak kecil.” ujarnya. Reyes adalah seorang anak Amerika yang dilahirkan dari orangtua imigran asal Meksiko. Maka, segera ia pun bertempur ke Afghanistan.

Sebagai seorang penembak dalam kesatuan angkatan laut AS, Reyes tentu saja telah dididik sedemikian rupa menjadi tentara yang terlatih dalam segala kondisi perang. Menurut Reyes, setelah mendapat perintah, tentara AS akan segera menjarah rumah, merusak jendela dan pintu, kursi dan meja, keluarga dan nyawa orang lain, menangkap siapapun yang dianggap mencurigakan. Masalahnya, adalah, “Tentu saja sulit sekali membedakan mana anggota Taliban, Al Qaidah, dan warga sipil. Semua orang dijadikan tersangka.” papar Reyes.

Sebagai contoh, pemimpinnya memerintahkan Reyes untuk memburu sekelompok teroris yang diperkirakan berada dekat wilayah mereka. Reyes, dengan empat orang anak buahnya yang bersenjata api lengkap dan canggih segera berpatroli. Ketika rombongan Reyes menemui sekelompok orang, mereka segera mengokang senapan M-16-nya dan berteriak, “Merunduklah kalian!”. Reyes dan anak buahnya meringkus kelompok yang tak bersenjata itu.

Beberapa saat kemudian, ketika semuanya sudah terjadi dan semua orang yang ditangkapnya sudah tewas atau tak berdaya, Reyes sadar, bahwa kelompok itu sama sekali tidak bersalah. “Lain waktu, saya dan anak buah saya menangkap seorang laki-laki, dan menyiksanya sampai mati hanya karena laki-laki itu akan mengantarkan susu kepada anaknya.” papar Reyes menerawang. Semua itu, menurut Reyes, begitu menghantui hari-harinya kini. “Saya sudah mengatakan kepada Kongress bahwa kami sepertinya hanya tengah memburu hantu di Afghanistan dan Iraq.”

Dan yang membuat Reyes terhenyak, ternyata bukan hanya di Afghanistan saja seperti itu. Di Iraq pun terjadi hal yang sama. Seperti diketahui, AS menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menangkap Saddam Hussein dan menjajah Iraq. “Medannya berbeda, namun cara kami melaksanakan misi selalu sama, kebrutalan dan kekerasan, dengan stigma bahwa Muslim adalah teroris…” Reyes mengisahkan.

Tidak banyak tentara AS seperti Reyes dan anak buahnya. Di tengah pelaksanaan misi, Reyes selalu berpikir ada sesuatu yang salah. Maka tidak heran setiap kali selesai melaksanakan misi, Reyes selalu mengganti semua kerusakan fisik yang mereka lakukan pada rumah yang mereka satroni. Satu-satunya hal yang selalu diingat dan tak mampu dilupakan oleh Reyes adalah “Anak-anak kecil tanpa rasa takut melempari kami dengan batu dan menyerapahi kami. Seingat saya, kami tidak pernah menangkap dan menyiksa orang yang bersalah.”

Reyes mengatakan bahwa ia menyaksikan betapa tidak efektifnya strategi milter AS di Afghanistan. “Tapi selama itu, saya tidak pernah mendengar apapun tentang penipuan yang dilakukan oleh pemerintah AS sampai saya kembali dari perang. Menyadari bahwa (di Afghanistan, begitu juga di Iraq) tak pernah ada senjata pemusnah massal, dan betapa susahnya kami mencari-cari teroris walaupun bahkan telah mengerahkan semua kekuatan militer, saya merasa bahwa patriotisme saya telah dieksploitasi untuk kepentingan politik AS belaka. Hanya sedikit keuntungan yang didapatkan oleh AS dari perang (di Afghansitan dan Iraq), namun seluruh masyarakat AS terbebani dengan pajak untuk perang ini.” ujarnya lagi. Saat ini, AS setidaknya sudah menggelontorkan $94,2 milyar dari pajak rakyat AS.

Menurut Reyes, perang di Afghanistan telah membabi buta. AS mengirimkan ribuan kapal dan pesawat perang, helikopter, tank, truk dan semua peralatan perang, tapi semuanya itu tidak efektif. Seperti yang dikatakan Reyes, teroris itu tidak pernah benar-benar ada. “Kami tidak pernah menemukannya.” Reyes dan beberapa orang tentara veteran lainnya sudah berusaha menghadap Kongress AS dan bertanya, “Apa gerangan yang sedang kami perangi? Perang ini begitu lama dan tak berkesudahan.”

“Kami para veteran adalah produk asli perang. Kami mengucapkan sumpah untuk melindungi dan melayani negara, berkorban untuk kejayaannya. Sumpah itu sebuah kebanggan buat kami. Dalam pikiran saya, mungkin tidak banyak veteran yang mau berbicara seperti ini, karena akan menggerus semua keyakinan mereka, tapi pengorbanan mereka jelas menjadi sia-sia dan dikhianati.” terang Reyes lagi.

Reyes dan sejumlah veteran lainnya saat ini membentuk kelompok Veteran Untuk Meninjau Kembali Afghanistan. Mereka akan menghadap Kongress. “Kami ingin semua orang sadar tentang kependudukan AS di Afghanistan dan Iraq adalah sesuatu yang kontraproduktif. Kami akan berjuang untuk mengeluarkan tentara dari sana, dan kami akan menerangkan betapa berbahayanya buat AS menggunakan bantuan kemanusiaan untuk menancapkan agenda militer tanpa pernah melakukan diplomasi.” pungkas Reyes. (eramuslim.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s