Muhammad Ismail Yusanto : Dalam Pemberantasan Korupsi HTI memiliki Sikap Independent dan Khas

HTI Press. Hari Ahad kemarin tanggal 6 Desember Hizbut Tahrir Indonesia Bersama Umat melakukan aksi serentak di seluruh Indonesia, dengan tema Selamatkan Indonesia dengan Syariah. Bersihkan Indonesia dari Sistem dan Birokrat yang Korup! Aksi ini dihadiri puluhan ribu massa. Untuk mengetahui apa latar belakang aksi ini termasuk dimana posisi Hizbut Tahrir Indonesia dalam persoalan Skandal Century, reporter Media Umat mewawancarai juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto. Berikut petikannya. (redaksi)

Apa tujuan dari aksi HTI tanggal 6 Desember tersebut?

Yang dilakukan oleh HTI sebenarnya merupakan bagian dari edukasi kepada umat, agar mereka sadar, bahwa Skandal Bank Century ini sebenarnya merupakan bukti kesekian betapa sistem dan birokrat negeri ini benar-benar korup. Karena itu, kasus ini semestinya dijadikan sebagai pelajaran untuk menyadarkan kita semua, agar kita tidak terperosok pada lubang yang sama berkali-kali. Karena itu, seruan HTI tegas, “Bersihkan Indonesia dari Sistem dan Birokrat yang Korup.”

Lalu apa hubungannya aksi ini dengan aksi tanggal 9? Bahkan, HTI diklaim oleh beberapa orang menjadi bagian dari KOMPAK, atau aksi Gerakan Indonesia Bersih?

HTI jelas mempunyai visi, misi, tujuan dan metode yang berbeda dengan kelompok-kelompok yang tergabung dalam KOMPAK atau Gerakan Indonesia Bersih. Karena itu, aksi yang dilakukan oleh HTI justru untuk menunjukkan, bahwa HTI tidak sama dan tidak ada kaitannya dengan mereka.

Memang benar, HTI diundang secara resmi oleh Pak Din Syamsudin, Ketua Umum PP Muhammadiyah untuk hadir pada acara yang disebut dengan Rembug Nasional Masyarakat Madani pada Senin tanggal 30 November  di PP Muhammadiyah, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kedua  di kantor CDCC Menteng pada Selasa 1 Desember. Pertemuan ini untuk mendorong agar pengusutan Skandal Bank Century diteruskan.

Nah, pertemuan itu juga diikuti oleh berbagai kelompok masyarakat yang intinya untuk menuntaskan kasus skandal Bank Century. HTI sendiri baru tahu, bahwa kemudian acara itu diselenggarakan untuk merencanakan dan membahas aksi 9 Desember. Namun, semua yang hadir juga tahu, bahwa HTI mempunyai sikap yang berbeda , khas, dan independent. HTI sendiri telah mengumpulkan berbagai tokoh dan ormas Islam, Kamis 3/12/2009 untuk melakukan penyamaan persepsi tentang Skandal Bank Century, sembari mengundang untuk hadir pada aksi tanggal 6 Desember yang diselenggarakan oleh HTI.

Apakah HTI berarti bagian dari KOMPAK?

Anggapan bahwa HT menjadi bagian dari KOMPAK seperti yang disebut saudara Usman Hamid yang menyatakan KOMPAK itu koalisi antara HMI, LSM, NU, Muhammadiyah termasuk HTI, itu jelas tidak benar. Termasuk klaim saudara Efendy Ghazali yang dimuat oleh salah satu media.

Memang benar, KOMPAK hadir dalam pertemuan pada tanggal 30 November maupun  1 Desember itu, tetapi KOMPAK hanyalah salah satu elemen, dan masih banyak elemen lain yang juga hadir dalam pertemuan tersebut. HTI sendiri hadir bukan karena undangan KOMPAK, tetapi undangan Pak Din. Jadi, payung pertemuan tersebut adalah Rembug Nasional Masyarakat Madani. Pertemuan tanggal 1 Desember itu juga tidak ada namanya. Baru kemudian dirumuskan namanya Gerakan Indonesia Bersih itu.

Kalau begitu, yang hadir pada undangan pertemuan pertama dan kedua itu tidak otomatis menjadi anggota koalisi?

Ya iya. Wong pertemuan itu sebenarnya hanya pertemuan biasa, santai dan mengalir begitu saja. Nggak ada pembentukan koalisi atau apapun namanya. Apalagi, kemudian diklaim HTI menjadi bagian dari koalisi, seperti KOMPAK. Dari mana logikanya? Sementara Gerakan Indonesia Bersih itu juga bukan koalisi. Itu hanya sekedar nama yang digunakan untuk menyelenggarakan acara tanggal 9 Desember. Dalam pertemuan 2 Desember itu, Jubir HTI telah menyatakan bahwa HTI telah merencanakan aksi sendiri pada tanggal 6 Desember. Dengan aksi 6 Desember itu HT sudah menjalankan agenda yang memang sudah direncanakan terlebih dahulu.

Posisi HTI sendiri dalam konstelasi skandal Bank Century ini bagaimana?

Berkenaan dengan Bank Century, justru HTI itu melakukan aksi tanggal 6 itu sebagai ekspresi dari hati masyarakat, kekecewaan terhadap skandal Century yang telah menyakiti hati masyarakat karena bail out 6,7 trilyun itu merugikan negara di tengah situasi kondisi tekanan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu HTI menuntut agar para pelakunya mendapatkan hukum yang setimpal.

Artinya, HTI akan tetap peduli terhadap penegakkan pemberantasan korupsi di Indonesia?

Iya. Karena HTI melihat bahwa korupsi di Indonesia itu sudah kronis. Nah, skandal Century ini bisa menjadi semacam momentum untuk membersihkan Indonesia ini dari rezim yang korup.

Lebih dari itu, HTI juga memahami bahwa rezim yang korup ini tidak bisa lepas dari sistem yang korup. Makanya, isu besar yang diangkat HTI dalam aksi 6 Desember itu Bersihkan Indonesia dari Sistem dan Rezim yang Korup.

Menurut Anda apa yang harus dilakukan oleh gerakan atau ormas -ormas Islam, berkaitan dengan skandal Bank Century ini? Karena sepertinya hanya sedikit ormas Islam yang merespon isu ini

Iya. Karena selama ini, terus terang, ada stereotype, seolah-olah yang menjadi masalah umat itu adalah persoalan-persoalan yang misalnya, hanya berkisar, Masjid Al Aqsha, Palestina, pornografi, aliran sesat Ahmadiyah dan semacamnya. Ya jadi stereotype-nya itu seputar itu.

Sementara kalau korupsi, pengrusakan lingkungan, salah manajemen dalam pengelolaan sumber daya alam, kehutanan, tambang, batu bara, listrik dan seputar itu seolah-olah itu bukan masalah Islam atau masalah umat. Karenanya tidak perlu macam-macam respon dari ormas Islam.

Nah, menurut saya, streotype semacam itu tidak tepat. Harus segera ditepis. Dengan apa? Dengan cara memandang bahwa segala kemunkaran, segala kemaksiatan, segala hal yang merugikan rakyat yang notabene mayoritas muslim ini adalah persoalan umat.

Nah, sekarang ini ada persoalan mega korupsi skandal Bank Century. Semestinya umat Islam harus memberikan respon terhadap kasus ini.

Kita tahu bahwa HTI dalam berbagai gerakan atau aksi-aksinya itu selalu menyuarakan syariah dan khilafah. Bagaimana relevansinya aksi 6 Desember yang dilakukan HTI kemarin dengan tuntutan penegakkan syariah dan khilafah?

Korupsi itu sebagaimana persoalan-persoalan lain adalah kenyataan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Saya lihat banyak pihak yang punya konsern sama dalam masalah itu. Hanya persoalannya adalah bagaimana solusi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut.

Nah, di titik inilah sesungguhnya kewajiban ormas Islam untuk memunculkan Islam sebagai solusi. Di situ pulalah relevansi, apa yang disebutkan pada aksi ribuan massa HTI bersama Umat tanggal 6 Desember kemarin, solusinya adalah syariah dan khilafah. Karena kasus Bank Century adalah buah atau bukti dari bobroknya sistem keuangan dan perbankan kapitalis.

Maka solusinya selain harus adanya rezim yang amanah, juga harus ada sistem yang baik yang berdasarkan Islam, itulah syariah. Jadi sekali lagi ini menjadi kewajiban ormas-ormas Islam untuk menyuarakan solusi syariah. Bukan malah justru mengalami penyubliman dengan kelompok-kelompok lain yang kemudian solusi syariah ini tidak tersuarakan.

Ada anggapan bahwa masalah korupsi itu adalah masalah bangsa, masalah nasional jadi sebaiknya agama termasuk Islam tidak dibawa-bawa. Karena ini masaalah kemanusiaan, masalah sosial…

Ya itu memang betul ada masalah bangsa, masalah sosial, masalah kemanusiaan cuma masalahnya adalah solusinya dari mana yang mau diterapkan. Misalnya soal korupsi, itukan sudah menjadi masalah dari dulu. Termasuk juga soal pengelolaan SDA, maraknya penyakit AIDS, itu kan sudah ada dari dulu.

Hanya solusinya seperti apa? Kan tidak pernah tuntas. Itu merupakan persoalan yang dari dulu hingga sekarang menunjukkan solusi yang diambilnya itu tidak pernah tepat. Kalau tepat kan semestinya ketika masalah itu muncul diberi solusi selesai kan tidak muncul lagi masalah yang sama.

Bahwa problem itu muncul berulang-ulang bahkan dalam skala yang lebih besar itu menunjukkan solusi yang selama ini diambil itu tidak tepat. Solusi apa yang selama ini diterapkan itu? ya solusi sekular kapitalistik.

Nah, justru menurut saya yang paling penting setelah menyuarakan adanya problem itu menyuarakan solusi. Karena menjelaskan solusi itu merupakan bagian dari penyelesaian persoalan. Nah, itulah sebenarnya yang merupakan kewajiban dari ormas-ormas Islam.

Sedangkan HTI sudah dan selalu melakukan itu. karena HTI yakin bahwa solusi Islam itulah satu-satunya yang manjur untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang ada selama ini.

Terakhir, ada tudingan dari elite bahwa aksi-aksi antikorupsi itu ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu. Tanggapan Anda?

Saya kira kalau SBY itu melihat kebijakan bailout Bank Century itu dilakukan dengan benar dan dengan mekanisme yang benar dan dalam hal ini SBY tidak terlibat seharusnya SBY tidak usah kuatir terhadap aksi apapun.

Bahwa sekarang ini banyak reaksi dari masyarakat bahkan ada pansus segala macam, itu menunjukkan bahwa kebijakan bailout Bank Century ada masalah. Dan itu pun SBY tidak perlu kuatir kalau memang SBY tidak terlibat.

Kalau kemudian sekarang SBY mencemaskan itu. Justru itulah yang menimbulkan pertanyaan yang semakin menggoda, apakah benar menurut sebagian pihak yang mengatakan bahwa SBY itu terlibat?

Dalam konteks Skandal Century ini, apakah HTI ada keinginan untuk menumbangkan SBY?

HTI tidak dalam posisi itu. HTI itu kan menilai bahwa setiap masalah pasti ditimbulkan oleh dua hal. Pertama adalah kesalahan pada sistem. Kedua adalah kesalahan pada orang.

Kesalahan pada sistem itu harus diatasi dengan menghadirkan sistem yang lebih baik. Itulah yang disebut sistem syariah. Sedangakan kalau yang terjadi itu kesalahan pada rezim jadi harus menghadirkan rezim yang baik itulah khilafah.

Nah, ketika memang terbukti oleh pansus SBY terlibat, misalnya. Maka rezim yang korup itu harus diganti dengan rezim yang amanah bersamaan dengan digantinya sistem yang korup ini dengan syariah Islam. Bagi HTI, caranya juga bukan dengan people power, karena ini bertentangan dengan metode perjuangan Rasulullah. Karena itu, HTI juga tidak akan melakukan cara-cara seperti ini. []

Catatan redaksi : sehubungan dengan adanya kekeliruan pemberitaan sebelumnya berkaitan dengan tanggal pertemuan  , meskipun tidak menghilangkan substansi fakta, maka tanggal yang benar adalah : pertemuan pertama hari senin tanggal 30 november di PP Muhammadiyah dan pertemuan kedua tanggal 1 desember malam di CDCC Menteng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s