GENOSIDA HIV/AIDS Mengancam

Hi sobat, sudah tahu apa itu HIV/AIDS? Mungkin sobat pernah baca, melihat atau mendengar tentang hal ini. Yup, HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus penyebab lumpuhnya sistem kekebalan tubuh. Kumpulan gejala akibat lumpuhnya kekebalan tubuh ini dikenal sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Kemudian penyakit ini dikenal dengan nama HIV/AIDS yang tergolong ke dalam penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual (sexual transmited disease), karena hubungan seksual merupakan penularan pertama dan utamanya. (Holmes, 1999 dan WHO, 2002).
Catatan yang sangat penting bagi kita bahwa HIV/AIDS menjadi ancaman yang sangat serius bagi umat manusia saat ini, khususnya di kalangan remaja. Karena sekali terinfeksi HIV, ia akan menjadi pengidap HIV/AIDS seumur hidupnya. Jika telah sampai pada fase AIDS, berbagai penyakit akan mudah masuk, misalnya retinitis cytomegalovirus (CMV), toksoplasmosis dan tuberkulosis (TB). Dengan menurunnya kekebalan tubuh akibat AIDS, penyakit-penyakit yang umumnya tidak bersifat fatal ini, dapat berakhir pada kematian. (Brooks, 1995 dan Murray, 2005). Lebih tragis lagi, sampai saat ini belum ditemukan obatnya, obat yang ada pun hanya sekedar memperlambat perkembangbiakan virus. (Dirjen P2MPL, 2003).

Data perkembangan HIV/AIDS:
1. Infeksi HIV/AIDS pertama kali ditemukan di kalangan gay San Fransisco, tahun 1978. Dua puluh tahun kemudian, AIDS menjadi epidemi di seluruh dunia.
2. Data UNAIDS yang dikeluarkan bulan Juli 2008 (mengacu pada situasi pada akhir 2007) menunjukkan bahwa sejak 5 Juni 1981, HIV telah membunuh lebih dari 25 juta manusia.
3. Selama tahun 2007, lebih dari 2,5 juta orang dewasa dan anak-anak terinfeksi HIV, virus yang menyebabkan AIDS.
4. Hampir 95% penderita HIV/AIDS terkonsentrasi di negara-negara berkembang. Indonesia terkategori sebagai negara dengan pertumbuhan epidemik HIV tercepat di Asia.5. Seks bebas jugalah yang menjadi sumber penularan pertama dan utama HIV/AIDS di Indonesia, dengan ditemukannya kasus AIDS pertama di Denpasar, Bali yang notabene merupakan surga bagi penikmat seks bebas. Penyakit ini ditemukan pada seorang turis Belanda dengan kecenderungan homoseksual yang kemudian meninggal April 1987. Orang Indonesia pertama yang meninggal dalam kondisi AIDS juga dilaporkan di Bali, Juni 1988. (WHO, 2002)
6. Seks bebas sebagai sumber penularan utama HIV/AIDS juga terlihat dari terkonsentrasinya epidemi HIV/AIDS pada kalangan pekerja seks komersial (PSK). Selanjutnya, Indonesia dikategorikan sebagai negara dengan epidemi HIV/AIDS terkonsentrasi pada kelompok perilaku seks bebas hingga sekarang. (Stranas 2007-2010).
7. Pada tahun 2007, sekitar 370.000 anak berusia 14 tahun atau kurang terinfeksi HIV. Lebih dari 90% dari anak-anak yang baru terinfeksi ini adalah bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan HIV, yang mendapat virus tersebut selama kehamilan, proses persalinan, maupun saat menyusui. (UNAIDS, 2008).
8. Hasil Survei Surveilans Perilaku (SSP) 2004/2005 menyatakan 10% remaja di Jakarta dan 6% di Surabaya pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah. (Republika, 29 Desember 2006).
9. Hasil survei Family Health International, sekitar 8-10 juta pria telah menikah (berstatus suami) mengunjungi penjaja seks (Republika, 29 Desember 2006).
10. Indonesia mendapat predikat dari Kantor Berita Associated Press sebagai surga pornografi kedua setelah Rusia. (Labib, 2006).
11. Hingga tahun 2010 ini, 26 balita di Kota Bekasi positif tertular HIV/AIDS ketika berada dalam kandungan ibunya. Dari jumlah tersebut 11 balita meninggal tahun 2009, dan satu lagi pada tahun 2010. (poskota.co.id, 21/05/2010)
12. Selain seks bebas (homo seksual dan biseksual), penyalahgunaan narkoba sebagai sumber penularan penting HIV/AIDS juga terlihat dari pola penularan HIV/AIDS yang terjadi di Amerika Utara, Eropa Barat, Australia, New Zealand dan sebagian Amerika. (Tjokronegoro dkk, 1992) Meskipun demikian, hingga akhir tahun 2005 di Amerika Serikat, transmisi melalui kontak seksual tetap menempati urutan teratas (72%). (UNAIDS, 2006).

SOLUSI MEMBERI MASALAH

Wah, sub judulnya bikin bingung nih. Kok solusi memberi masalah. Maksudnya? Jangan bingung dulu sobat, coba kita telaah kembali fakta yang disajikan sebelumnya. Ibarat gunung es, kasus HIV/AIDS hanya baru terlihat puncaknya aja, belum dilihat sampai dasarnya. Kenapa? Karena ternyata masalah ini bukan hanya masalah orang kaya atau orang miskin, orang muslim atau orang non muslim, atau bahkan masalah negera maju atau negara berkembang. Ternyata banyak ahli menilai masalah ini tidak menemukan solusi yang berarti. Sehingga solusi diberikan justru tidak mampu menyelesaikan akar masalah dari HIV/AIDS.

Upaya Penanggulangan Justru Memperluas Penularan
Ok sobat, sekarang kita intip yuk bagaimana upaya penanggulangan yang telah dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi HIV/AIDS:
1. Kondomisasi
Kondomisasi (100% kondom) merupakan salah satu strategi nasional yang telah ditetapkan sejak tahun 1994 hingga sekarang. Kampanye pengunaan kondom awalnya dipopulerkan melalui kampanye ABCD, meliputi Abstinentia, Be faithful, Condom dan no Drug. Penyebaran kampanye ini sudah difalisitasi oleh banyak media, mulai dari media massa sampai program sosialisasi ATM Kondom. Padahal jika kita ketahui lebih detail kondom itu berasal dari bahan dasar lateks (karet), yakni senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang mempunyai serat dan berpori-pori. Dengan menggunakan mikroskop elektron, terlihat tiap pori berukuran 70 mikron, yaitu 700 kali lebih besar dari ukuran HIV-1, yang hanya berdiameter 0,1 mikron. Selain itu para pemakai kondom semakin mudah terinfeksi atau menularkan karena selama proses pembuatan kondom terbentuk lubang-lubang. Terlebih lagi kondom sensitif terhadap suhu panas dan dingin, sehingga 36-38% sebenarnya tidak dapat digunakan. Dengan demikian, alih-alih sebagai pencegah, kondom justru mempercepat penyebaran HIV/AIDS. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan laju infeksi sehubungan dengan penggunaan kondom 13-27% lebih (Weller S, 2004).

2. Subsitusi Metadon dan Jarum Suntik Steril
Salah satu langkah yang digunakan untuk mengurangi tingginya penasun (pengguna narkoba suntik) saat ini yaitu dengan mengesahkan program pengurangan dampak buruk melalui pemberian jarum suntik steril dan subsitusi metadon. Strateginya adalah subsitusi metadon dalam bentuk Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) dan pembagian jarum suntik steril telah menjadi salah satu layanan di rumah sakit, Puskesmas dan klinik-klinik VCT (voluntary counseling and testing). Depkes menyediakan 75 rumah sakit untuk layanan CST (Care Support and Treatment), tercatat 18 Puskesmas percontohan, 260 unit layanan VCT yang tersebar di seluruh Indonesia (Stranas 2007-2010). Melalui layanan ini, para penasun dapat dengan mudah memperoleh jarum suntik dan metadon dengan harga cukup murah, yaitu + Rp.7500 per butir. Subsitusi adalah mengganti opiat (heroin) dengan zat yang masih merupakan sintesis dan turunan opiat itu sendiri, misalnya metadon, buphrenorphine HCL, tramadol, codein dan zat lain sejenis. Subsitusi pada hakekatnya tetap membahayakan, karena semua subsitusi tersebut tetap akan menimbulkan gangguan mental, termasuk metadon. Pemberian jarum suntik juga menunjukkan peredaran narkoba di masyarakat berlangsung melalui jaringan mafia yang tertutup, rapi dan sulit disentuh hukum. Jaringan itu bersifat internasional, terorganisir rapi dan bergerak dengan cepat. Selain itu, sekali masuk perangkap mafia narkoba sulit untuk melepaskan diri.

3. Anti Stigmatisasi ODHA: Melindungi Hak Siapa?
Stigmatisasi dan diskriminasi terhadap ODHA (orang pengidap HIV/AIDS yang berpotensi menularkan kepada orang lain) dianggap dapat menimbulkan kerawanan sosial dan menghambat upaya penanggulangan HIV/AIDS. Untuk itulah, dalam Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS dirumuskan upaya pencegahan dan penghapusan diskriminasi terhadap ODHA. Namun masalahnya, ODHA yang dimaksud adalah dari kalangan pezina, pelacur, kaum homoseks dan lesbian, serta penasun. Mereka notabene adalah pelaku maksiat, namun diposisikan ‘hanya’ sebagai orang sakit tanpa menilik bahwa perilaku mereka adalah pangkal masalah penyakit ini. Pembahasan yang digunakan hanya dari satu sisi, bahwa mereka korban, bukan pelaku maksiat yang terus menyebarkan penyakit ini melalui kemaksiatannya. Upaya memotivasi setiap orang berinteraksi secara ’normal’ dengan ODHA, seperti opini “Hidup Sehat Bersama ODHA”, kadang menghilangkan sikap kehati-hatian. Ada media massa yang mengangkat pernikahan ODHA dengan individu sehat, seolah mengkampanyekan bahwa interaksi intim dengan ODHA tidaklah membahayakan si sehat. Bukankah isu ini justru membahayakan orang yang sehat?
Berbeda dengan sistem kehidupan saat ini (sekuler), sistem kehidupan Islam (Khilafah Islamiyah) adalah sistem kehidupan yang membebaskan manusia dari segala rasa takut, demikian pula rasa takut akibat ancaman senjata biologi AS, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS An-Nur:55. Kemampuan Islam membebaskan generasi dari ancaman bahaya HIV/AIDS dan seks bebas adalah pasti, yaitu karena sifatnya sebagai sistem kehidupan yang berasal dari Allah SWT Pencipta manusia, memiliki visi dan misi yang mendunia, yaitu rahmat bagi seluruh alam, penyelamat kehidupan, kehormatan, dan aqidah umat. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Anbiya:107, yang artinya “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam.” Rahmat yaitu yang menyejahterakan, termasuk di dalamnya menyehatkan. Hal ini karena Allah SWT yang Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Benar dan tidak mempunyai kepentingan terhadap manusia yang telah menciptakan peraturan-peraturan bagi manusia demi kepentingan (kemaslahatan) manusia, termasuk membebaskan semua orang dari ancaman bahaya HIV/AIDS.
Agenda pokok Khalifah (pemimpin negara Islam) untuk membebaskan masyarakat dari epidemi HIV/AIDS dengan melakukan upaya penyelamatan jiwa yang terkena serangan. Pertama upaya preventif untuk memutuskan rantai penularan agar kuman tersebut tidak menyebar pada orang-orang yang sehat, dengan menghilangkan segala bentuk praktek seks bebas dan hal yang memfasilitasinya, meliputi media-media yang merangsang (pornografi-pornoaksi), tempat-tempat prostitusi, klub-klub malam, tempat maksiat dan pelaku maksiat. Negara juga harus melepaskan diri dari kebijakan-kebijakan lembaga-lembaga internasional dalam hal ini WHO, UNAIDS, UNDOC, karena terbukti semakin menguatkan ancaman bahaya HIV dan seks bebas. Selain itu, negara perlu menerapkan sistem pendidikan Islam yang akan membentuk individu yang berkepribadian islam; sistem ekonomi Islam yang menyejahterakan semua orang serta menjauhkan dari segala perbuatan maksiat termasuk bisnis/mafia prostitusi dan narkoba; menerapkan sistem pergaulan Islam yang membersihkan masyarakat dari perilaku seks bebas dan akhlak yang rendah; menerapkan sistem sangsi yang sesuai syariat yang membuat masyarakat takut dan berhati-hati melanggar aturan Allah.
Kedua, upaya kuratif, yaitu mengobati masyarakat yang terinfeksi HIV/AIDS. Yaitu mengikuti prinsip-prinsip pengobatan yang sesuai dengan syariat Islam, antara lain tidak membahayakan, tidak menggunakan bahan-bahan yang diharamkan, mendorong dan memfasilitasi penderita untuk semakin taqwa kepada Allah SWT. Khalifah wajib memberikan pengobatan gratis bagi para penderita ini yang memiliki hak hidup. Selain gratis, juga mudah dijangkau semua kalangan dan dalam jumlah memadai. Karena kesehatan termasuk kebutuhan pokok publik yang wajib dijamin pemenuhannya oleh Negara. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya, “Imam (Khalifah) laksana penggembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR Al-Bukhari).

Khatimah
Demikianlah, solusi yang dipaksakan oleh negara-negara Kafir Barat melalui lembaga-lembaga dunia bertujuan menghancurkan generasi Islam dan negeri-negeri muslim (genosida). Hal ini terbukti dengan solusi yang diberikan untuk memberantas penyakit AIDS tidak memberantas faktor penyebab utama (akar masalah) atau menghilangkan media penyebarannya yaitu seks bebas. Sehingga kita perlu solusi yang pasti dan mampu membangun peradaban yang mulia, yaitu dengan menerapkan syariat Islam di bawah Naungan Khilafah Islamiyah. Wallahu ‘alam bish-shawab.
Note : (Disadur dari berbagai sumber)

Aksi tolak HIV/AIDS

GENOSIDA HV/AIDS Mengancam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s