MENJEMPUT HIDAYAH MENJAGA AMANAH DA’WAH (Optimalisasi Peran Muslimah dalam Kebangkitan Umat)

Muqaddimah

Menjadi pengemban da’wah bukanlah pekerjaan yang mudah tetapi bukan pula pekerjaan yang sulit untuk dilakukan oleh seorang hamba Allah, karena pilihan menjadi seorang pengemban da’wah bagi hamba Allah bukanlah pilihan main-main. Tetapi ini adalah pilihan yang serius karena pekerjaan yang dihadapi dalam da’wah pun adalah pekerjaan yang serius dan urgen.

Menjadi pengemban da’wah bagi hamba hamba Allah adalah bentuk keta’atannya kepada Allah atas seruan yang telah difirmankanNya dalam Al Quran (Qs. 3:110), sehingga menjadi pengemban da’wah adalah thabi’at yang senantiasa melekat dalam diri seorang hamba Allah yang taqwa.

Fakta yang terjadi dalam kehidupan (tidak terkecuali yang juga menginfeksi kaum Muslimin) yang sedang berlangsung mendunia saat ini, adalah diberlakukannya suatu aturan main yang sangat jauh dari aturan Allah.  Seluruh manusia diseret dengan cara yang indah (padahal keji) untuk mengikuti aturan main tersebut.  Sehingga bagaikan ikan yang terkena kail pancing seorang muslim tidak mampu mengatakan kebenaran karena mulutnya telah terpikat umpan lezat dari kail yang kemudian ternyata melukainya dan menjebaknya ke dalam perangkap dan siap untuk membunuhnya. Demikianlah yang terjadi pada diri kaum Muslimin, tidak terkecuali pada para pengemban da’wah.

Melihat kondisi seperti ini, akan menjadi hal yang sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan Islam, jika perangkap-perangkap itu tidak segera dihindari dan tidak segera dimusnahkan. Dan hal yang sangat tidak kalah penting adalah tidak hanya menunggu petunjuk Allah apalagi yang harus dijalankan.  Tetapi sebagai hamba Allah yang telah Allah berikan akal dan potensi haruslah baginya untuk mencari dan menjemput petunjuk Allah.  Dan da’wah sebagai jalan untuk menyampaikan petunjuk merupakan amanah bagi para pengemban da’wah tidak terkecuali Muslimah dalam rangka  menghancurkan perangkap yang akan dan telah  menghancurkan Kharisma Islam dalam kehidupan ini.

 

Menjemput Hidayah

Hidayah secara ‘urf bisa diartikan sebagai jalan yang bisa mengantarkan pada tujuan yang diinginkan, atau jalan yang seharusnya. Dan secara syar’a jalan yang dimaksud adalah jalan yang benar (thariq al-haqq) dan jalan lurus (thariq al-mustaqim), yaitu Islam dan keimanan terhadapnya.  Dengan demikian,secara syar’I, hidayah adalah mendapat petunjuk atau terbimbing pada Islam dan beriman terhadapnya.

Dalam do’a, biasanya seorang muslim selalu memanjatkan kepada Allah untuk memberinya taufiq wa al hidayah.  Taufiq berkaitan dengan dengan sebab-sebab hidayah, atau sifat-sifat hidayah, yang jika seseorang menyifati diri dengannya maka ia akan mendapat hidayah. Allah tidak akan memberikan taufiqnya secara paksa kepada manusia, melainkan ketika manusia sudah menerima hidayah al khalq, menggunakan gharizah tadayunnya dan menggunakan akalnya kemudian sampai padanya hidayah al irsyad wa al bayan melalui Rasulullah, kaum Muslim atau sarana lainnya, kemudian memahaminya dan menerima hujah Risalah itu maka Allah akan memberinya taufiq dan memudahkannya memahami hidayah dan mengambilnya dan hidup dengannya. Begitulah proses yang seharusnya dilakukan oleh pengemban da’wah. Setelah dia menerima hidayah al khalq dan sampai pada hidayah al irsyad wa al bayan melalui Rasulullah, dia bersungguh-sungguh untuk memahaminya dan menerima hujah Risalah yang dibawa Rasulullah dalam segala hal, termasuk dalam menetapkan langkah da’wah.  Firman Allah SWT:

 

“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya” (Qs. 56:17)

 

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS.29:69)

 

Jadi, jika seseorang meyakini menjemput hidayah adalah suatu usaha yang harus dilakukannya maka seseorang perlulah untuk mengubah pola hidup berdiam diri terhadap perjuangan menuju taghyir suatu sistem. Dalam ayat yang mulia:

 

ِ انَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar-Ra’d [13]: 11)

 

Ayat tersebut berkaitan dengan hukum syara’. Yaitu bahwa siapa saja yang menginginkan taghyir (perubahan) yang dia idam-idamkan, maka ia wajib berjuang serius, penuh kesungguhan, jujur dan ikhlas. Maka Allah SWT tidak merealisasikan perubahan untuk orang-orang pemalas dan tidur saja. Akan tetapi Allah akan merealisasinya untuk para aktivis yang berjuang dengan serius, sungguh-sungguh, jujur dan ikhlas…

 

Menjaga Amanah Da’wah Sebagai Realisasi Menuju Kebangkitan Umat

 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

 

”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (TQS. Ali Imran[3]:110)

 

            Dalam menjaga amanah da’wah ada beberapa kompetensi yang harus diperhatikan.  Kompetensi  yang akan menjadikan seorang pengemban da’wah akan senantiasa berpegang teguh pada langkah da’wah yang sedang ditapakinya. Kompetennsi tersebut antara lain:

  1. Iman yang kokoh
  2. Ilmu yang mumpuni
  3. Amal shalih yang lahir dari keimanan
  4. Senantiasa berjuang dan berdakwah untuk kejayaan Islam

Seperti apa yang telah Allah ajarkan dalam Al Quran:

وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (TQS. Al-’Ashr:1-3).

Sehingga bagi seorang pengemban da’wah yang senantiasa memahami mengambil hidayah Allah untuk menetapkan langkah da’wah dan menjaga amanah da’wah maka dia akan bersikap:

  1. Memahami kewajiban berdakwah (QS. 3:104, 9:71, 41:33)
  2. Memahami arah dakwah:
  • Untuk mendapat ridla Allah
  • mentauhidkan Allah
  • menjadikan Islam sebagai rahmat.  (QS. 21:107)
  • Menjadikan Islam sebagai pedoman hidup (QS. 2:208, 3:85)
  1. Memahami tujuan dakwah:
    • Membentuk kader yang berkepribadian Islam
    • Membentuk jamaah yang membina kader dan memperjuangkan tegaknya khilafah
    • Membentuk daulah khilafah
  1. Memahami dan mencontoh thoriqoh dakwah Rosulullah SAW
  1. Memiliki kemampuan dan keahlian untuk berdakwah:
    • Menguasai materi dakwah (matang dalam tsaqofah Islam)
    • Menguasai medan dakwah: senantiasa mengikuti perkembangan politik, sehingga mampu melakukan siro’u-al fikri dan kasf-al khuthot
    • Menguasai retorika dakwah

 

Ikhtitam

Allah telah menciptakan pada diri manusia qabiliyah (kapasitas) untuk kebaikan maupun keburukan.  Dan Allah telah menjelaskan pula jalan kebaikan atau jalan hidayah maupun jalan keburukan atau jalan kesesatan (Qs. As-syams:8; Qs. Al-Balad: 10). Lalu Allah membebaskan manusia untuk memilih jalan hidayah atau jalan kesesatan itu  (QS. Al-Kahfi: 29).  Jika orang mencari dan menjemput hidayah, dengan mengupayakan sifat-sifat hidayah ada dalam dirinya atau memilih jalan hidayah, maka Allah memberikan taufiq sehingga mendapat hidayah dan Allah mendapat hidayah kepadanya.  Dan jika sebaliknya, maka Allah tidak akan memberinya tufiq, bahkan Allah akan menambah kesesatannya. Naudzu billlah…

Bahwa perjuangan da’wah untuk mewujudkan perubahan yang diidamkan adalah fardhu dan itu berada di dalam wilayah yang dikuasai manusia. Realisasi perubahan hari ini atau besok, di tempat ini atau di tempat yang itu, adalah berada di wilayah yang menguasai manusia. Karena itu, tidak boleh putus asa atau duduk berpangku tangan jika pertolongan yang dijanjikan belum juga datang. Panjangnya jalan sama sekali tidak berarti kelirunya para aktivis. Akan tetapi itu seperti yang difirmankan oleh Allah SWT:

 

إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS ath-Thalâq [65]: 3)

 

Dan sesungguhnya Allah SWT tidak merealisasi perubahan untuk orang-orang pemalas dan yang tidur saja, akan tetapi Allah akan merealisasi perubahan itu untuk para pejuang yang jujur dan mukhlis.

 

Dan Allah SWT adalah pelindung yang memberikan tawfiq.

Salam Perjuangan – Ir. Ummu Azkia Fachrina, MA

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s