URGENSI MENYATUKAN SUARA UMAT

MUQADDIMAH

Opini tentang penegakan syariah dan Khilafah menggema di seluruh penjuru Nusantara. Hampir dua bulan lamanya, gelora semangat untuk mengembalikan kejayaan Islam silih berganti dari satu kota ke kota lain di seluruh Indonesia. Perhelatan akbar Konferensi Rajab 1432 H yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di 29 kota menjadi katalisator munculnya semangat baru kaum Muslim untuk memperjuangkan penerapan syariah Islam dalam naungan Khilafah.

Khilafah. Itulah kata yang kini sering disebut oleh banyak kalangan. Sambutan terhadap gagasan Khilafah dari berbagai kalangan, termasuk tokoh umat Islam, semakin besar dari hari ke hari. Di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) gagasan ini makin diterima di hati masyarakat, bahkan bukan hanya di Jabodetabek saja.  Salah seorang tokoh dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Zahir Khan, menegaskan, “Syariah Islam ini harus terus diperjuangkan. Orang-orang sekular sangat memusuhi syariat ini. Bahkan, mereka sangat phobi dengan istilah tersebut. Kita harus terus maju.”

Bukan sekadar tokoh umat yang memiliki sikap demikian. Masyarakat secara umum pun tengah merindukan tegaknya syariah dan Khilafah. Sekadar contoh, beberapa waktu lalu Setara Institute dalam penelitiannya menemukan bahwa 34,6% masyarakat di Jabodetabek setuju dengan Khilafah. Ini bukan jumlah kecil. Betapa tidak, pemenang Pemilu 2009 lalu saja hanya meraih 20% suara. Sekalipun ada yang tidak lantang menyerukan Khilafah, banyak di antara mereka yang setuju dengan kesatuan umat dalam Khilafah.

KHILAFAH JANJI ALLAH

Tidaklah mengherankan jika sikap sikap yang disebutkan di atas terjadi apabila kita lihat  dari kacamata iman. Tegaknya kembali kekuasaan Islam dalam Khilafah merupakan janji yang disebutkan dalam hadis maupun ayat al-Quran. Imam al-Hakim meriwayatkan dari Ubay bin Kaab ra.:

Saat Rasulullah saw. dan para Sahabat sampai di Madinah dan orang-orang Anshar memberikan perlindungan kepada mereka, orang-orang Arab bersatu-padu memerangi mereka. Akhirnya, para Sahabat dan Nabi saw. tidak pernah melewati malamnya kecuali dengan perang, dan mereka senantiasa bangun pada waktu pagi dalam keadaan perang. Para Sahabat berkata, ’Tahukah kalian, kapan kita bisa melewati malam-malam kita dengan aman dan tenteram, dan kita tidak pernah lagi takut, kecuali hanya takut kepada Allah SWT?’ Dalam kondisi demikian, turunlah firman Allah SWT surat an-Nur (24) ayat 55″ (Imam az-Zarqani, Manahil al-’Irfan, II/271).

Surat an-Nur (24) ayat 55 itu merupakan janji dari Allah SWT tentang akan berkuasanya kaum Muslim dalam sistem Khilafah:

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka—sesudah mereka dalam ketakutan—menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan apapun. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik (QS an-Nur [24]: 55).

Oleh sebab itu, orang-orang beriman yakin akan tegaknya kembali supremasi syariah Islam yang diterapkan dalam kekuasaan Khilafah Islam. Keyakinan ini benar-benar lahir dari akidah Islam. Buktinya, berbagai tuduhan dan nada miring tentang syariah dan Khilafah justru mendorong umat untuk semakin giat berjuang dan menyambut kehadiran Khilafah. Pada waktu terjadi kiriman paket bom yang dikemas dalam buku di Utan Kayu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris Ansyad Mbai langsung mengatakan, “Mereka berasal dari kelompok yang lama. Mereka berniat mengantikan sistem sekarang dengan Khilafah dan syariah.” Namun, tudingan ini justru semakin menambah sambutan terhadap syariah dan Khilafah. Ada seorang tokoh mengatakan, “Masa penyelidikan saja belum berjalan, pengadilan belum digelar, tiba-tiba sudah ada kesimpulan bahwa pelakunya aktivis pejuang Khilafah dan syariah. Sangat tidak logis.”

Begitu juga, ketika ramai-ramainya isu NII. Ada pihak yang menyuarakan bahwa dalam al-Quran dan al-Hadis tidak ada perintah mendirikan negara Islam. Namun, hal ini pun justru semakin memperkuat dukungan terhadap penegakkan syariat Islam dan Khilafah. Sebab, ketika ulama, kiyai dan tokoh yang terbiasa membaca kitab disodori kitab al-hushun al-hamidiyah, Al-Ahkam as-Sulthaniyah, Târîkh al-Madzâhib al-Islâmiyah, Marâtib al-Ijmâ’, Mughni al-Muhtâj ilâ Ma’rifah Alfâdz al-Minhâj, Tuhfah al-Muhtâj fî Syarh al-Minhâj, Nihâyah al-Muhtâj ilâ Syarh al-Minhâj, Hasyiyah Qalyubi wa ‘Umayrah, dll mereka menemukan bahwa sistem pemerintahan menurut syariah Islam adalah Khilafah dan menegakkan Khilafah merupakan kewajiban syar’i. Para ulama dan tokoh yang mukhlish ini justru semakin tahu derajat kualitas orang-orang yang mengatakan Islam tidak memerintahkan mendirikan negara. Semua ini makin menegaskan tiga hal: makin menguatnya kerinduan umat Islam akan Khilafah; keimanan dapat mengalahkan berbagai tudingan miring terhadap khilafah dan para pejuangnya; dan wa makaru wa makaralLahu walLahu Khairul makirin.

URGENSI MENYATUKAN SUARA UMAT

Kita semua sama-sama tahu bahwa bencana kehancuran Khilafah di tangan penjahat Attaturk di Turki belum pernah dialami selama berabad-abad sebelumnya. Barat berusaha mengokohkan kondisi-kondisi baru di tengah-tengah umat agar Barat bisa memperdalam cengkeramannya terhadap umat. Di antara upaya terpenting Barat dalam hal itu adalah menobatkan penguasa yang menjadi pelayan Barat. Mereka adalah para penguasa yang mengurusi umat secara represif dan diktator. Hanya saja, umat telah menyadari tipudaya Barat itu. Maka dari itu, berbagai aktivtas Hizb datang untuk menerangi jalan kebangkitan bagi umat dalam upaya umat membebaskan diri dari hegemoni imperialisme. Aktivitas-aktivitas yang diselenggarakan Hizb bergema sejak dari Indonesia di timur hingga Maroko di barat. Mengapa ini dilakukan? Hal ini menunjukkan betapa pentingnya dakwah  Hizb dalam rangka menegakkan Khilafah sehingga akan mampu  menyatukan suara umat dalam menuntut kembalinya Khilafah pada saat banyak dari orang-orang mukhlis telah mengindera kebangkitan baru setelah tahta tiran yang didirikan oleh Barat tergerus.

Di kampung global yang makin mengecil jaraknya dari hari ke hari berkat sarana komunikasi, tentu apa yang terjadi di Tunisia memiliki refleksi yang kuat di Mesir, Suria, Yordania dan Yaman. Apa yang berlangsung di Pakistan gemanya terus bergaung di Bangladesh, India dan Indonesia. Umat Islam adalah umat yang satu yang diikat. Mereka diikat oleh aqidahnya dan keimanannya kepada Allah, Sang Pencipta alam semesta; oleh Nabi-Nya, Muhammad saw.; dan oleh al-Quran sebagai risalah Allah yang kekal kepada umat manusia seluruhnya. Karena itu sangat wajar bahwa konferensi atau tablig akbar yang disampaikan di timur, termasuk Indonesia, atau di barat akan memiliki pengaruh yang kuat dan penting, bahkan meski pengaruh itu tidak dilihat oleh pembicara atau orang-orang yang menyelenggarakannya dan sungguh ternyata berbagai konferensi dan aktivitas yang diselenggarakan Hizb mampu mengingatkan umat bahwa sumber kemuliaan dan kebangkitannya tidak lain ada di dalam Islam. Secara global dan spesifik sumber kemuliaan dan kebangkitan itu adalah tegaknya daulah Khilafah yang akan mempersatukan umat dan menghimpun kalimatnya di bawah panji imam yang satu, imam yang akan memelihara dan mengurusi umat menurut hukum-hukum petunjuk qurani, kemudian memimpin umat untuk menjadi sumber cahaya, keadilan dan rahmat untuk seluruh dunia.

Ketika suara umat menyatu,  masyarakat memanas secara bertahap sampai pada titik didihnya, timbullah ledakan langsung dengan munculnya fajar baru. Banyak pengamat dikejutkan oleh revolusi-revolusi yang melanda negeri-negeri Arab. Meski demikian, orang yang selalu mengamati kondisi umat dan tingkat keterpurukan yang mereka alami akibat pemerintahan yang dipimpin oleh penguasa penjahat serta terbongkarnya aib para penguasa itu dan kolusi mereka dengan musuh-musuh umat niscaya memprediksi dan menanti-nanti terjadinya revolusi-revolusi itu. Dengan izin Allah Yang Maha Qudrah wal Iradah, fajar Khilafah telah mulai menyingsing dan boleh jadi telah begitu sangat dekat. Meski kita tidak boleh terburu-buru, kita percaya secara mutlak dan dengan keyakinan penuh bahwa Allah SWT akan menunaikan janji-Nya dan semoga hal itu dalam waktu dekat ini.

IKHTITAM

Jangan Anda terpedaya dengan ujian dan cobaan dunia.  Sesungguhnya tempat tujuan akhir kita adalah Surga. Hati kita berhimpun dalam kecintaan dan ketaatan kepada Allah. Perhatian utama kita, penderitaan kita dan harapan kita adalah satu, yaitu: Kalimat Allah menjadi yang paling tinggi; agar Allah SWT merealisasi janji-Nya kepada umat dan memberikan kemungkinan kepada para aktivis mujahid yang berjuang di jalan Allah untuk menegakkan Khilafah. Percayalah dan yakinlah bahwa apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kita dalam bentuk tugas dan aktivitas untuk menolong agama ini, itu akan menjadi kontribusi mendasar dalam menggemakan gaung Khilafah.

Kepada Allah Yang Maha Mendengar, kita meminta dan memohon agar menetapkan perhatian kita untuk menolong agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya; dan agar meneguhkan kita di dalam ketaatan kepada-Nya. Marilah kita memohon agar Allah menjadi sebaik-baik pendukung dan penolong bagi kita. Dia adalah Penolong dan Wali dalam hal itu dan Maha Kuasa atasnya.

Uusiikum wa nafsiiy bi taqwallah….Ilal liqa wa salaamaa fii tha’aati wa mahabbatillah..

Bekasi  (Salam Perjuangan – Ir. Ummu Azkia Fachrina, MA.)

One thought on “URGENSI MENYATUKAN SUARA UMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s