PEDOFILIA FENOMENA GUNUNG ES YANG MENGERIKAN

Mana yang lebih urgen Pemilu Capres atau Penyelesaian kasus pedofilia? KaSus pedofil mencuat berawal dari kaus kekerasan anak Tk di sekolah bertaraf internasional, yang kemudian muncul banyak kasus serupa. Sayangnya saat ini berita tersebut agak tertutupi dengan maraknya berita Pemilu Capres dan Cawapres. Apakah pedofilia hanyalah kasus kriminal atau kekerasan seksual biasa atau suatu kasus yang memang butuh perhatian khusus, penanganan cepat dan darurat.

Beberapa pengamat mengatakan bahwa fenomena pedofilia laksana fenomena gunung es. Gunung es yang tampak kecil dari kapal ternyata besar jika dilihat dari dalam laut. Kini, gunung es tersebut mulai mencair, lama kelamaan seluruh gunung terkuak dan banyak orang kaget, ternyata di balik bongkahan e itu ada gunung yang tidak terlihat.

Kasus ini menjadi “heboh” setelah muncul kasus kekerasan seksual anak TK di sekolah bertaraf internasional di Jakarta. Muncul pula kasus serupa salah satunya kasus sang predator Emon (24 tahun) yang melakukan aksi pedofilnya kepada 114 anak. Sebenarnya kasus seperti ini pernah muncul sebelumnya. Kasus Baikuni alias Babe yang melakukan kekerasan seksual terhadap 14 anak jalanan, kemudian membunuh dan memutilasi anak anak tersebut. Ada pula Siswanto alias Robot Gedek yang membunuh secara sadis 12 anak setelah sebelumnya melakukan hubungan seksual dengan mereka. Robot Gedek memotong tubuh korban korbanya sebelum dibuang. Di kalideres Jakbar Budiman melakukan kekerasan seksual terhadap 14 anak. Sebelum Emon di Sukabumi muncul pula kasus Sartonodi Cirebon yang melakukan tindakan bejatnya pada 96 anak. Tidak hanya itu, Sartono menjual anak laki laki yang pernah jadi korbannya dengan harga Rp 25 rb – Rp 50 rb. Belum tuntas semua kasus yang ada muncul lagi kasus pedofilia di Surabaya. Pelakunya seorang dokter gigi Tjandra Adi Gunawan yang menyebarkan 10.236 foto tidak senonoh anak anak di dunia maya. Pelaku pedofilia tersebut men-upload foto korbannya yang merupan siswi sekolah dasar di Surabaya.

KPAI menetapkan status darurat perlindungan anak setelah ditemukannya kekerasan seksual di beberapa tempat. Menurut ihsan Gumilar peneliti dan dosen Psikologi menjelaskan bahwa berawal dari korban pelecehan seksual di masa kecil, lalu tumbuh menjadi orang yang memakan korban. Selain itu, setelah diselidiki para pelaku tindakan bejat itu sering menonton film/tayangan porno yang beredar bebas di setiap sudut negeri ini. Tidak ada filter budaya barat yang masuk ke Indonesia. Budaya hidup serba bebas menjadi lazim saat ini. Ide kebebasan ini muncul dari paham liberal yang merupakan derivat dari Kapitalisme. Pengusungan kebebasan berperilaku menjadi salah satu jargonnya. Waria, lesbian, gay dan homoseksual yang menjadi bibit pelaku pedofilia menjadi “reasonable”atas jargon kebebasan berperilaku atau pun Hak Asasi Manusia (HAM).

Apakah dengan hukuman penjara sekian tahun akan menyelesaikan kasus pedofilia. Ketika dipenjara aksi pedofilia akan tetap dilakukan, menular dari satu ke yang lain. Lalu bagaimana efek trauma para korban pedofilia? bagaimana juga peluang korban pedofilia yang bisa menjadi predator di saat dewasa? Bagaimana pula tayangan tayangan atau tempat-tempat yang memunculkan hasrat seksual atau bahkan memunculkan penyimpangan seksual? Dan yang paling penting adalah apakah hukum di negeri ini yang telah diterapkan sampai saat ini mampu menyelesaikan secara tuntas kasus ini?

Salah satu fungsi negara adalah mengatur urusan rakyatnya, menjaga rakyatnya dan meindunginya. Jika melihat kasus pedofilia ini yang merupakan darurat nasional, negara kudu melakukan “aksi-aksi” untuk membantu menyelamatkan generasi bangsa ini. Negara mempunyai peranan pertama dan utama untuk penyelesaian kasus ini. Penutupan akses akses pornografi pornoaksi harus dilakukan, pemberian hukuman dengan efek jera dan pemutusan rantai pedofilia harus segera dilakukan. Dan yang paling penting regulasi preventiv untuk mencegah munculnya kembali kasus serupa. Negara membuat aturan pergaulan antara laki laki dan perempuan di masyarakat berdasarkan hukum hukum Islam. Kemunculan naluri seksual dalam kehidupan umum dicegah. Dengan metode ini, aurat tidak dipertontonkan dan seks tidak diumbar sembarangan. Terbiasanya orang melihat aurat dan melakukan seks, akan membuat sebagian orang kehilangan hasrat seksnya dan mereka membutuhkan ssesuatu yang lain untuk membangkitkannya. Muncullah kemudian penyimpangan seksual seperti pedofilia, homo dan lebi. Inilah yang dihindarkan dengan penerapan aturan pergaulan sosial dalam Islam. Jika masih ada yang melakukan aksi bejat ini, maka sistem uqubat Islam akan menjadi benteng yang bisa melindungi masyarakat. Hal ini akan memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah orang lain melakukan hal yang serupa. Tentunya hal ini tidak bisa dilakukan jika negara tidak menerapkan Islam secara utuh yaitu Daulah Khilafah Islamiyah. Negara yang menjadikan Islam sebagai dasarnya, halal haram sebagai standar penegakan hukumnya, dan kerelaan Allah SWT sebagai tujuannya.

Ditulis oleh: ummu al-kamil (aktivis MHTI Bekasi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s