DISKUSI INTERAKTIF: MALAM SINGKAT SEJUTA MAKSIAT

Remaja-MHTI DPD II Kota Bekasi, kembali mengadakan Agenda Diari pada Ahad, 13 Desember 2015 di Masjid Al Muhajirin Bekasi Selatan dengan tema “ Malam Singkat Sejuta Maksiat” Acara tersebut dihadiri oleh puluhan  remaja se-Bekasi. Baik dari kalangan pelajar, mahasiswa dan umum.

Berbeda dengan Diari edisi sebelumnya, kali ini konsep diskusi interaktif diambil agar acara lebih santai namun serius. Yaitu dengan membagi tiga kelompok dengan tiga penyaji materi. Adalah Kak Novita Fauziyah, S. Pd, Kak Sri Eni Purnama Dewi, S. Pd, Si, Kak Rosyada Antur, yang dipercaya untuk menyampaikan materi. Sebagai moderatornya adalah Kak Nurul Rachmah.

Dengan ramah Kak Nurul menyapa setiap peserta di permulaan acara, segera dilanjutkan oleh Kak Novita sebagai penyaji I. Beserta gaya dan bahasa khasnya, beliau memaparkan sebuah pendapat kebanyakan remaja dan umat saat ini dalam mengisi malam pergantian tahun baru. Video singkat juga ia tampilkan unuk memberikan contoh aktivitas positif apa saja yang boleh dilakukan untuk merayakan malam pergantian tahun baru tersebut. Ada pawai, doa bersama, membaca Al-Qur’an, sampai introspeksi diri demi taqarrub kepada Allah. Sebagian besar peserta menyetujui pendapat ini.

Diskusi dilanjutkan dengan penyaji II, Kak Eni. Berbeda dengan kak Novi, di sesi ini  beliau membeberkan fakta-fakta mengejutkan, yang menyertai perayaan malam tahun baru. Diawali dengan berbagai kemegahan di berbagai belahan dunia dalam perayaannya. Dari negeri kaum kafir hingga negeri-negeri muslim. Ya, perayaan malam tahun baru memang sudah menjadi perayaan internasional. Selain itu, ternyata banyak fakta lain yang sangat mengerikan ditemukan dalam pemaparan kak Eni. Penjualan alat kontrasepsi, miras, narkoba, yang identik dengan pergaulan bebas anak remaja juga sangat meningkat berkali-kali lipat. Bahkan  menurut BKKBN tiap tahunnya, 600.000 remaja putri hilang keperawanan dan itu akan terus meningkat mengingat maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja. Dan moment yang sering di gunakan untuk ajang sex bebas ini adalah malam tahun baru.

Diskusi semakin memanas, karena peserta sangat tercengang dengan kondisi yang sudah luar biasa rusaknya tersebut. Sebagai pemateri II, Kak Rosya akhirnya menjelaskan bagaimana sejarah awal dari perayaan Malam tahun baru  itu sendiri. Ternyata penetapan 1 januari ini  dilakukan  oleh Julius Caesar seorang kaisar romawi (46 SM), Di resmikan oleh paus Gregorius XII th 1582. januari = januarius = dewa janus  adalah dewa penjaga gerbang olympus yang di artikan sebagai gerbang menuju tahun baru. Karena pada saat itu penanggalan bangsa romawi masih kacau tidak beraturan, sehingga ditetapkanlah tahun baru masehi jatuh pada bulan januari. Pada masa romawi kuno dewa janus di sembah oleh para pemuja setan, Penganut pagan freemanson (yahudi), menjaga tradisi perayaan ini untuk memalingkan dari agama tauhid. Disamping memang perayaan tersebut adalah perayaan bagi orang kafir, berbagai pernak-perniknya ternyata juga merupakan hadhoroh dari peradaban barat yang didalamnya memiliki unsur kristenisasi. Sayangnya, banyak kaum muslim yang tidak mengetahui hal ini sehingga mereka melakukan dan merayakan tahun baru masehi yang jatuh pada malam 1 januari tersebut.

Kak Rosyapun menjelaskan, penyebab hal ini terjadi adalah asas dari sistem yang diterapkan di dunia saat ini. Yakni Sekularisme-kapitalisme  yang memisahkan agama dari kehidupan. Maka Kak Rosya mengajak peserta lebih cerdas dan tidak mudah ikut-ikutan dengan hal yang belum kita pahami.. Di tegaskan dengan hadits dari Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad, 5/20; Abu Dawud no 403). Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan sanad hadits ini hasan. (Fathul Bari, 10/271).

Di akhir acara, ada beberapa pertanyaan yang diajukan oleh beberapa peserta mengenai tema kali ini. Baik dari penyaji pertama sampai penyaji ke tiga.  Hingga Pembicara pun menjawab pertanyan satu persatu. bahwa jalan satu-satunya ialah kembali kepada islam dan dengan mengkaji islam. Maka kita akan semakin tahu mana yang dilarang, mana yang di perintahkan oleh Allah dan RasulNya. Sehingga kita tidak menjadi orang yang taqlid dan tasyabbuh (menyerupai) baik budaya, pakaian, atribut dan cara hidup orang kafir.

Acara pun ditutup dengan pembacaan khutbah terakhir Rasulullah dengan diiringi videonya oleh Sholikhatun yang menjadikan suasana haru siang itu. Kak Nurul sekali lagi menyeru kepada peserta untuk terus istiqomah dalam mengkaji islam dan mendakwahkanNya di tengah-tengah umat yang masih banyak belum memahami islam. Karenanya adalah kewajiban bagi setiap muslim. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s