MERAIH KEMERDEKAAN HAKIKI

Oleh: Kartini Rosmala D.K.

 Makna Merdeka

17 Agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita….”. Sahabat Diari, tau donk lirik lagu ini. Pasti donk. Kan setiap tahun negara kita sering merayakannya setiap tanggal 17 Agustus.

Gak terasa ya kalo sudah 71 tahun Indonesia merdeka. Sering kali sekolah mengadakan upacara bendera. Kalo di rumah pasti banyak yang mengadakan lomba. Kayak lomba kerupuk, lomba kelerang, lomba masukin pensil ke dalam botol, lomba panjat pinang, de el el.

Sangking hebohnya nie perayaan 17 Agustus, remaja sibuk meminta-minta sumbangan di pinggir jalan. Pake kotak kardus bertuliskan “sumbangan 17 Agustus”. Kadang ada yang di dekat rel kerata api. Weleh… weleh…

Tapi, kayaknya kita perlu tau dulu deh, apa sih makna merdeka. Biar kita pintar menyikapi fakta ini… betul betul betul.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka adalah bebas (dari penghambaan, penjajahan, dsb.); berdiri sendiri; tidak terikat atau tergantung kepada orang atau pihak tertentu.

Dalam pandangan Islam. Merdeka adalah terbebasnya kita dari segala penghambaan hawa nafsu dan seraya selalu tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.

Makanya, kalo kita masih terjajah hawa nafsu sendiri, kita bisa masuk ke dalam jurang kebinasaan baik dunia maupun akhirat. Allah SWT juga mengingatkan kita dalam firman-Nya:

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Naazi’aat:37-39).

Dalam Tafsir Fathul Qadir Imam As-Syaukani mengatakan; orang yang melampaui batas adalah yang melampaui batas dalam kekufuran dan maksiat kepada Allah. Lebih mendahulukan dunia ketimbang akhirat.

Tafsir selanjutnya, menurut Imam Al-Baidhawi menyatakan, maksud ayat di atas adalah adapun orang yang melampaui batas hingga dia kufur serta memilih kehidupan dunia dan tidak mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat dan membersihkan diri dari hawa nafsu maka tempat kembalinya adalah neraka.

Sahabat Diari sekarang jadi tau kan apa makna merdeka itu. selanjutnya… muncul lagi nie pertanyaan, apa benar kita sudah merdeka??? Wah pasti Sahabat Diari sudah punya jawabannya sendiri ya. Yuk kita lanjut lagi bacanya. (cek ke dot)

Apa Benar Kita Sudah Merdeka?

Jawabannya, BELUM. Mungkin Sahabat Diari, pasti bertanya lagi, “Kok belum sih?… Emangnya kita masih dijajah?”.

Sahabat Diari, emang secara fisik kita tidak dijajah, karena penjajah Belanda (3,5 abad), Jepang (3,5 tahun), Inggris dan Portugis sudah tidak ada lagi di Indonesia. Tapi… tunggu dulu.

Lihat deh, bagaimana budaya asing (kafir) masuk ke dalam benak-benak kaum muslimin. Khususnya generasi muda (remaja). Mulai dari hedonisme[1], freesex[2], narkoba, kekerasan (tawuran), LGBT,  individualis, aborsi, atau seringnya remaja suka ikut-ikutan tren mode budaya Barat (pola kehidupan), mulai dari FUN (kontes menyanyi, nonton film), FOOD (junk food), FASHION (berbusana), dan FOOTBOOL (piala dunia).

Remaja kayak begini nih, yang lebih bangga mengikuti gaya Barat dibandingkan dengan Gaya seorang Muslim. Allah SWT berfirman:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. QS. al-Baqarah (2) : 120

Dalam segi negara, kalo kita lihat dari aspek Undang-Undang misalnya, Indonesia masih di bawah tekanan dan intervensi asing yang sangat besar.

Menurut Eva Kusuma Sundari, politisi PDIP, berdasar informasi dari Badan Intelijen Negara (BIN), selama 12 tahun reformasi ada 76 produk undang-undang di sektor strategis seperti pendidikan, perbankan, energi, kesehatan dan politik seperti UU Sumber Daya Air No.7 tahun 2004, UU Kelistrikan No.20 tahun 2002, UU Pendidikan Nasional No.20 tahun  2003, UU Migas No.22 tahun 2001, UU BUMN No.19 tahun 2003, UU Penanaman Modal No.25 tahun 2007 serta UU Pemilu No.10 tahun 2008. Semua UU tersebut draft-nya disusun oleh pihak asing, yakni Bank Dunia, IMF dan USAID.

Coba bayangkan Sahabat Diari, hampir semua produk undang-undang yang diback-up oleh pihak asing tersebut sangat kental bernuansa liberalisasi[3] (kebebasan).

Dari segi ekonomi, Indonesia benar-benar tidak mandiri. Misalnya saja kebutuhan pokok, Indonesia lebih memilih import. Contoh beras, gula, kedelai, wortel, dan lain-lain. Padahal doeloe-nya Indonesia terkenal dengan lumbung padinya. Bahkan ada swasembada[4] pangan, seperti adanya Perum BULOG yang melayani rakyat dalam kecukupan beras dalam negeri.

Ditambah lagi, sejak Indonesia mengikuti pasar global dan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), Indonesia bukannya semakin berkembang, tapi malah tertatih-tatih karna Indonesia harus berupaya bersaing dengan luar negeri, sementara di dalam negeri terseok-seok (tidak dijamin oleh negara).

Segi pendidikan, misalnya saja fasilitas bangunan sekolah yang “reyot (tidak layak)”, biaya pendidikan setiap tahun bertambah,  kurikulum yang membebankan siswa, tidak ada nilai agama yang penuh untuk menjaga mental dan moral generasi dalam aktivitas kehidupan, orientasi ketika lulus adalah bekerja (SMK/Sekolah Menengah Kejuruan). Hasilnya adalah generasi yang tidak berkualitas, sebab negara tidak melayani rakyatnya dengan sepenuh hati.

Inilah penjajahan secara non fisik (pemikiran) yang masih ada hingga saat ini. Artinya, Indonesia sampai sekarang masih belum merdeka, karena ketidakmandirian negara dalam mengurusi dan mengatur negaranya.

Kemerdekaan Hakiki

Lalu kemerdekaan yang hakiki seperti apa donk? Terus untuk meraih kemerdekaan hakiki harus bagaimana?

Sahabat Diari, kalo kita merujuk kembali kepada makna merdeka yaitu terbebas dari penyembahan hawa nafsu dan tunduk kepada aturan Allah SWT, pasti kita sudah menemukan solusi yang tepat untuk kemerdekaan yang Hakiki. Betul?

Jawabannya tidak lain adalah Indonesia harus mengubah penghambaanya dari hawa nafsu manusia menjadi penghambaan hanya kepada Allah SWT. Caranya adalah:

Pertama, Indonesia harus membangun pondisi negara yang kuat (landasannya kokoh) dengan memiliki ideologi yang jelas, yaitu Ideologi Islam. Karena kalo tidak jelas Ideologinya, maka bisa dipastikan Indonesia tidak akan merdeka seutuhnya.

Kedua, Hukum dan Undang-Undang yang berlaku harus berlandaskan sesuai dengan Islam. Maka, kebijakan yang dibuat tidak boleh berdasarkan kepentingan Asing (Kafir), tetapi harus sesuai dengan hukum Islam.

Ketiga, kalo pondasi dan landasanya sudah Islam, maka tinggal pemimpinnya yang menjalankan pemerintahan dengan ideologi dan hukum Islam. Baru, kita akan mendapatkan pemimpin yang amanah, jujur, dan yang dapat mengayomi masyarakat sepenuh hati dengan pertanggung jawabannya kepada Allah SWT.

Terakhir, masyarakat, khususnya remaja harus cerdas politik yaitu dengan cara memahami Islam sepenuhnya. Jadi, ketika melihat politik, remaja cerdas memberikan masukan-masukan kepada pemimpinnya dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya.

Nah, untuk memahami Islam, remaja dituntut untuk mencari ilmu tersebut sehingga kewajiban inipun menjadi fardu’ain yang harus dilaksanakan. Satu-satunya cara, ya hanya NgaJi (mengkaji Islam) secara mendalam. Dengan mengaji kita pasti akan cerdas politk dan tentunya menjadi manusia merdeka seutuhnya. Wallahu a’lam bishshawab.

[1] Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup

[2] Menurut KPAI, 62,7% remaja di Indonesia  tidak perawan lagi.

[3] Liberalisasi adalah proses (usaha dan sebagainya) untuk menerapkan paham liberal dalam kehidupan (tata negara dan ekonomi).

[4] Swasembada adalah usaha mencukupi kebutuhan sendiri (beras dan sebagainya)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s